Selasa, 17 September 2013

SURA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI


Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti memiliki arti adalah setiap kebencian, kemarahan, keras hati akan luluh oleh kelembutan, bijaksana, dan sabar. 

"Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti" adalah bagian dari salah satu bait "Sekar Kinanthi" dalam "Serat Witaradya" buah karya R Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) pujangga besar Kasunanan Surakarta, yang mengisahkan R Citrasoma, putra Sang Prabu Aji Pamasa di negara Witaradya.


Selengkapnya "Sekar Kinanthi" tersebut adalah sebagai berikut:
Jagra angkara winangun
Sudira marjayeng westhi
Puwara kasuh kawasa
Sastraning jro Wedha muni
Sura dira jayaningrat
Lebur dening pangastuti

Terjamahan kata per kata merujuk Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 sebagai berikut:

Jagra: Bangun; Angkara: Angkara;
Winangun: Diwujudkan (Wangun: Wujud);
Sudira: Amat berani;
Marjayeng: Jaya ing, menang dalam ... ;
Westhi: Marabahaya;
Puwara: Akhirnya;
Kasuh: Tidak tahan;
Kawasa: Kuasa;
Sastra: Jro: Jero, Di dalam;
Tulisan, surat-surat, buku-buku;
Wedha: Ilmu pengetahuan, Kitab-kitab ilmu;
Muni: berbicara;
Sura: Berani;
Dira: Jaya: Ningrat: Bangsawan, tetapi Ning: Di;
Rat: Jagad Lebur: Hancur; Dening: Oleh;
Pangastuti: pamuji, pangalem, pangabekti, panembah.

Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:
Bait ke 1 sd 3 menunjukkan orang yang karena keberanian dan kesaktiannya ia tidak pernah terkalahkan, akhirnya tidak kuat memegang kekuasaan dan tumbuh sifat angkara.
Sedangkan bait ke 4 sd 6 menjelaskan bahwa menurut kitab-kitab ilmu pengetahuan, sifat angkara tersebut dapat dikalahkan dengan kelembutan.

Di bawah adalah kisah pendukung "Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti" yang dapat dibaca dalam "Serat Witaradya" tentang kesetiaan seorang isteri yang dapat mencegah niat buruk lelaki lain dengan "pangastuti"

Alkisah sang putra mahkota jatuh cinta kepada istri Tumenggung Suralathi yang bernama Nyai Pamekas, seorang wanita yang sepantaran dengan dirinya. Wanita yang tidak hanya cantik lahiriyah tetapi juga suci hatinya. Begitu gandrungnya sang pangeran, sampai pada suatu saat Ki Tumenggung sedang dinas luar, beliau mendatangi Nyai Pamekas yang kebetulan sedang sendirian, untuk menyatakan maksud hatinya yang mabuk kepayang

Dengan tutur kata lembut dan "ulat sumeh" Nyai Pamekas berupaya menyadarkan R Citrasoma dari niat tidak baiknya, karena jelas menyeleweng dari sifat seorang ksatria dan melanggar norma-norma kesusilaan, tetapi sang Pangeran tetap ngotot. Nyai Pamekas mencoba ulur waktu, dengan mengingatkan bahwa ada banyak orang disitu yang berpeluang melihat perbuatan R Citrasoma, kecuali di"sirep" (dibuat tidur dengan ilmu sirep)

Bagi seorang yang sakti mandraguna seperti R Citrasoma, tentu saja me"nyirep" orang bukan hal besar. Ketika semua orang tertidur, kembali Nyai Pamekas mengingatkan bahwa masih ada dua orang yang belum tidur yaitu Nyai Pamekas dan R Citrasoma sendiri. Lebih dari pada itu, masih ada satu lagi yang tidak pernah tidur dan melihat perbuatan R Citrasoma, yaitu Allah yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

R Citrasoma terhenyak dan sadar. Minta maaf kemudian kembali ke kediamannya. Nyai Pamekas berhasil mengatasi nafsu angkara tidak dengan kekerasan. Mungkin juga kalau keras dilawan keras justru akan terjadi hal yang tidak baik. Kelembutan dan kesabaran ternyata berhasil meluluhkan kekerasan.

Satu contoh lagi pada saat menjelang akhir perang Bharatayuda Yudistira harus melawan Prabu Salya yang memiliki aji-aji Candra Birawa. Berupa raksasa yang kalau dibunuh akan hidup lagi bahkan jumlahnya menjadi berlipat ganda. Bima dan Harjuna dibuat kewalahan dengan raksasa Candra Birawa ini. Setiap dipukul dengan gada oleh Bima, atau dipanah oleh Harjuna, jumlahnya malah makin berlipatganda.

Akhirnya Candra Birawa berhadapan dengan Yudistira, Raja yang dikenal berdarah putih. Tidak pernah marah apalagi berperang. Raksasa-raksasa Candra Birawa tidak dilawan. Bahkan didiamkan saja. Tetapi raksasa dapat dikalahkan dan kembali kepada tuannya.

Itulah "Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti". Sebuah ajaran yang patut kita renungkan pada abad ke 21 ini.

GUGURNYA SANG KSATRIA

Arjuna, tatalah rasa hatimu! 
Hari ini sudah sampai waktumu harus meladeni tanding dengan kakakmu, Adipati Karna. 

Kanda, bagaimanakah hamba dapat melayani tanding yuda dengan kanda Adipati Karna. Suasana beginilah yang selalu mengingatkanku akan Ibu Kunti keluh Arjuna.

Kresna telah tahu apa yang melatar belakangi maksud dari keberpihakan Karna terhadap Kurawa. Hal itu telah ia dengar sendiri tatkala ia bertemu dengannya empat mata, ketika ia telah usai menjadi duta terakhir sebelum pecah perang. Semuanya bagi Kresna sudah tidak ada hal yang meragukan. Namun ia tidak mengatakan apapun tentang itu terhadap Arjuna.

Adikku, hari ini pejamkan matamu, tutuplah telingamu. Kamu hanya wajib mengingat satu hal, darma seorang satria yang harus mengenyahkan kemurkaan. Walaupun saudaramu itu adalah salah satu saudara tuamu, tetapi ia tetaplah ada pada golongan musuh. Dan ketahuilah, bahwa majunya kakakmu Adipati Karna itu, tidak seorangpun yang ditunggu, kecuali dirimu. Dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang diwajibkan untuk mengantarkan kematiannya, kecuali dirimu.

Mari aku dandani kamu sebagaimana layaknya seorang senapati, dan akulah yang akan menjadi kusirmu. Selesai berdandan busana keprajuritan, segera mereka menaiki kereta Prabu Kresna, kereta Jaladara. Kereta perang dengan empat ekor kuda yang berasal dari empat benua yang berwarna berbeda setiap ekornya, merupakan hadiah Para Dewa. Bila dibandingkan dengan kereta Jatisura milik Adipati Karna yang telah remuk dilanda tubuh Gatutkaca, kesaktian kereta Jaladara bisa berkali kali lipat kekuatannya.

Suasana berkembang makin hening, diangkasa telah turun para dewata dengan segenap para durandara dan para bidadari. Mereka hendak menyaksikan peristiwa besar yang terjadi dipadang Kuru. Sebaran bunga bunga mewangi turun satu satu bagai kupu kupu yang beterbangan.

Karna yang melihat kedatangan Arjuna berhasrat untuk turun dari keretanya. Kresna yang melihat keraguan memancar dari wajah Arjuna mengisyaratkan untuk menyambut kedatangannya. Berkata ia kepada Arjuna : Lihat! Kakakmu Adipati Karna sudah turun dari kereta perangnya, segera sambut dan ciumlah kakinya.

Arjuna segera turun berjalan mendapatkan kakak tertua tunggal wadah dengannya. Baktiku kanda Adipati, Arjuna duduk bersimpuh dihadapan Adipati Karna setelah menghaturkan sembahnya.

Arjuna, seumpama aku seorang anak kecil, pastilah aku sudah menangis meraung-raung. Tetapi beginilah orang yang menjalani kewajiban. Aku bela diriku membutakan mata menutup rasa hati untuk mencapai kamukten. Sekarang aku sudah mendapatkannya dari Dinda Prabu Duryudana. Dan sekarang aku harus berhadapan dan tega berkelahi sesama saudara sekandung! Karna menumpahkan isi hatinya.

Kanda Adipati, hamba disini memakai busana senapati bukan untuk menandingi paduka kanda Prabu. Tetapi membawa pesan dari ibu kita, Kunti, untuk kembali berkumpul bersama saudara paduka Para Pandawa. Air mawar bening pembasuh kaki sudah disiapkan oleh adik adik paduka, Kanda Adipati. Arjuna mencoba meluluhkan hati kakak tunggal ibu itu.

Kembali Adipati Karna menegaskan apa yang terrasa didalam hatinya.

Lihat, air mataku jatuh berlinangan. Tetapi aku katakan, tidak tepat apa yang kamu katakan. Sudah berulang kali kamu memintaku untuk berkumpul bersama sama dengan saudaraku Pandawa. Begitu juga dengan Kanda Prabu Kresna, yang ketika itu datang kepadaku dan bicara empat mata. Sekarang sama halnya dengan dirimu, yang juga kembali mengajakku untuk berkumpul bersama. Bila aku menuruti permintaanmu, hidupku akan seperti halnya burung yang ada dalam sangkar emas. Tetapi hidupku tidak bisa bebas. Hidupku hanya kamu beri makan dan minum belaka. Apakah kamu senang bila mempunyai saudara dengan keadaan seperti yang aku katakan?
.
Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Sesaat kemudian Karna melanjutkan.Tak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengantarkan aku menuju alam kematianku, kecuali hanyalah dirimu, dinda Arjuna! Dan bila aku nanti mati dalam perang tanding itu, sampaikan baktiku pada ibunda Kunti, yang tak sekalipun aku memberi ketentraman batin dalam hidupnya .

Serak terpatah patah suara Adipati Karna ketika ia melanjutkan curahan isi hati terhadap Arjuna. Kembali susana menjadi hening. Akan tetapi tiba tiba ia berkata dengan nada tegas.

Hari ini adalah hari yang baik. Ayolah kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih perwira, lebih bertenaga, lebih sakti!

Kanda, berikan kepadaku seribu maaf atas kelancangan hamba berani dengan saudara yang lebih tua. Kembali Arjuna menghaturkan sembah, berkata ia, yang kemudian mengundurkan diri kembali menaiki kereta Jaladara.

Maka perang tanding dengan andalan ketepatan menggunakan anak panah berlangsung dengan seru. Keduanya sesama putra Kunti tidak sedikitpun berbeda ujudnya dalam busana keprajuritan. Keduanya menggunakan topong yang sama, sehingga banyak prajurit yang sedari tadi berhenti menonton sulit untuk membedakan yang mana Arjuna dan manakah yang Karna, kecuali pada kereta yang dinaikinya.

Pada suatu ketika topong kepala Adipati Karna terpental terkena panah Arjuna. Sejenak Karna meminta Prabu Salya untuk berhenti, dan berkata.
Rama prabu, hampir saja hamba menanggung malu. Topong kepala hamba terpental oleh panah adi Arjuna. Sudah aku katakan, tak hendak aku ikut campur dalam peristiwa ini. Aku hanya kusirmu. Tapi kali ini mari aku benahi rambutmu biar aku gelung. Setengah hati Prabu Salya mendandani kembali putra menantunya.

Kembali adu ketangkasan olah warastra berlangsung. Kali ini Kunta Wijayandanu ada ditangan Karna. Waspada Prabu Salya dengan melihat senjata kedua setelah Kunta Druwasa yang telah sirna digunakan oleh Adipati Karna ketika berhadapan dengan Gatutkaca. Maka pada saat menantunya itu melepas anak panah, kendali kereta ditarik, kemudian kuda melonjak. Panah yang sejatinya akan tepat mengenai sasaran, hanya mengenai topong kepala Arjuna dan mencabik segenggam rambutnya.

Aduh Kanda Prabu, topong hamba jatuh terkena panah kanda Adipati. Apakah ini sebagai perlambang kekalahan yang akan menimpa hamba? Arjuna menanyakan.

Bukan ! Itu peristiwa biasa. Biarlah aku tambal rambutmu dengan rambutku. Sekarang aku akan menggelung rambutmu kembali, Jawab Kresna, yang kemudian menerapkan kembali gelung rambut baru pada kepala Arjuna.

Kembali kedua putra Kunti berdandan dengan cara yang sama. Semakin bingung para yang melihat pertempuran dua satria yang hampir kembar itu. Bahkan para dewata dan segenap bidadari dan durandara, melihatnya dengan terkagum.

Adu kesaktian telah berlangsung lama, segala macam kagunan dan ilmu pengabaran telah dikeluarkan. Saling mengimbangi dan saling memunahkan kawijayan antara kesaktian mereka berdua. Namun Arjuna masih memegang satu senjata yang belum digunakan. Itulah panah Kyai Pasupati, yang bertajam dengan bentuk bulan sabit.

Arjuna ! Kresna memberikan isyarat, Sekaranglah saatnya!. Hanya sampai disini hidup kakakmu Adipati. Segera lepaskan senjatamu Pasupati untuk mengantarkan kakakmu ke alam kelanggengan!.

Panah Pasupati telah tersandang pada busur gading Kyai Gandewa, lepas anak panah berdesing bagai tak terlihat. Walau Arjuna melepaskannya sambil memejamkan mata karena tak tega dan rasa bersalah, namun panah dengan bagian tajam yang menyerupai bulan sabit itu mengenai leher Adipati Karna. Tajamnya Kyai Pasupati tiada tara, sampai-sampai, kepala Adipati Karna dengan senyum yang masih tersungging dibibirnya tak bergeser sedikitpun dari lehernya.

Jatuh terduduk jasad Adipati Karna bersandarkan kursi kereta. Geragapan Prabu Salya yang merasa khawatir dan setengah bersalah. Turun dari kereta ia, kemudian menghilang dari pabaratan, kembali ke Bulupitu.

Kidung layu layu kembali mengalun di Padang Kuru, awan mendung yang menandai pergantian musim telah menitikkan airnya walau hanya rintik rintik.

Meski begitu, rintik hujan itu sudah cukup menandai kesedihan yang melingkupi Para Pandawa.

Bagaimanapun Karna-Suryatmaja adalah saudara sekandung, walau ia terlahir bukan atas keinginan sang ibu.

Meski demikian, ia adalah sosok yang sudah memberi warna kepada orang orang disekitarnya dan para saudara mudanya.

Ia adalah sosok yang tegar dan teguh dalam memegang prisip kesetiaan kepada Negara yang telah memberinya kemuliaan hidup. Tetapi sekaligus ia tokoh yang kontroversial, sebab ia adalah tokoh yang secara tersamar menegakkan prinsip, bahwa keangkaramurkaan harus tumpas oleh laku kebajikan.

Ia telah menyetujui bahwa perang Baratayuda harus terjadi, sebab dengan demikian ia telah mempercepat tumpasnya laku angkara yang disandang oleh Prabu Duryudana. Raja yang telah memberinya kemukten.

16.09.13

Senin, 16 September 2013

CINTA TRAPESIUM ALA BANOWATI

Lelaki itu bernama Aswatama. Ia anak Pandita Drona. Ia punya rindu-dendam terhadap perempuan. Mengapa?

Syahdan, Prabu Salya raja Mandaraka mempunyai tiga orang putri. Semuanya rupawan. Ialah Erawati, Surthikanti dan Banowati. Yang paling cantik sekaligus binal namanya Banowati. Disamping cantik dan binal ia molek. Banyak lelaki melambungkan khayalan padanya. Hukum dunia telah digariskan, wanita cantik berjodoh dengan lelaki rupawan. Yang binal dapat yang jalang. Banowati juga tahu hukum dunia itu. Karenanya ia berani jatuh hati pada Arjuna, sang penengah Pandawa, lelananging jagad – pejantan dunia, lelaki paling jalang diantara yang jalang. Gayung bersambut. Playboy dunia wayang itu tidak menampik Banowati. Maka terjadilah percintaan yang membirahi.

Di tempat lain Prabu Drupada raja Panchala terluka hatinya karena ulah Pandita Drona. Drupada lantas melakukan ritual Putrakama Yadnya, ritual memohon anak, dengan tujuan anak tersebut kelak sebagai sarana untuk membunuh Drona. Lahirlah dua orang, yang lelaki diberi nama Drestajumna, yang perempuan Dropadi. Malang nian anak-anak ini, mereka dimohonkan lahir kedunia dengan ungkapan dendam.
“Wahai Drestajumna pergilah ke penjuru bumi. Timbalah ilmu dari guru-guru sakti karena kelak takdir menuntutmu untuk membunuh Drona, guru yang sombong dan tidak adil itu.”

Drestajumna menuruti ayahandanya. Ia harus kukuh sebagai mesin pembunuh. Berat rasanya menjadi calon pembunuh secara sadar sejak awal. Kenapa pula harus Drona. Guru para Pandawa sekaligus Kurawa. Tetapi ia harus patuh pada ayahnya. Ia pergi. Mempersiapkan pembunuhan yang menentukan itu.

Sebagai ayah, Drona begitu sayang pada Aswatama. Seisi dunia akan ditampiknya jika harus diganti dengan Aswatama, kebanggaannya. Drona bersumpah akan rela menyusul mati jika Aswatama mati. Sumpah itu – seperti biasa – dicatat oleh dewa, dan, seperti biasa akan dibocorkan kelak pada saatnya.

Drona memang seorang guru yang mumpuni. Tetapi ia tidak adil. Kepada Aswatama ia memberi pelajaran lebih, melebihi apa yang ia berikan kepada Pandawa dan Kurawa. Lambat namun pasti Aswatama telah menjelma menjadi paling tangkas dan sakti. Tetapi Aswatama tahu diri, ia bukan kasta ksatria, ia lebih baik tidak menonjolkan diri. Biarlah para ksatria dunia yang menonjol, ia cukup dibelakang layar saja. Toh ia bisa mengambil peran lain.

Sesungguhnya Aswatama tak luput dari pesona Banowati. Ia tergila-gila. Tetapi ia selalu diajari untuk tampil dibelakang layar. Mental seperti inilah yang menjadikan Aswatama tidak berani menyatakan cinta pada Banowati. Aswatama tahu diri, ia bukan ksatria. Aswatama menanggung pilu saat Banowati semakin dekat dengan Arjuna. Aswatama dendam, tetapi tidak berdaya. Nyatalah sudah bahwa di jaman kuno, kasta adalah segalanya.

Malam telah gelap memekat bersenggama dengan bau wangi dupa yang menaburi dingin. Suasana yang sempurna bagi insan yang menyimpan rahasia. Tetapi tidak bagi mata Aswatama. Ia bisa memahami dan memastikan, di sudut sana, pujaan hatinya tengah berdua dengan Arjuna. Saat-saat yang selalu dilanjutkan dengan percumbuan dan persetubuhan. Asawatama terluka, tetapi tidak berdaya. Oh Banowati, mengapa kau begitu hina. Tetapi…tetapi…aku cinta.

Pertentangan Pandawa dan Kurawa semakin hebat. Kedua kubu semakin aktif membangun aliansi. Pada pertemuan di Balairung Hastina, Sangkuni memberi petuah pada Doryudana.

“Wahai raja Astina memang sudah menjadi kehendak dewata jika perang bakal meletus. Perang tentu akan dimenangkan oleh pihak yang lebih kuat dan lebih banyak mendapat dukungan dari negara sahabat.

Hendaknya sang prabu membangun persekutuan dengan cara apapun. Ada satu kerajaan yang harus segera paduka dekati karena disamping mereka kuat juga telah condong hatinya kepada Pandawa, ialah negeri Mandaraka yang dipimpin Prabu Salya.”

“Bagaimana mungkin kita bisa merebut hati Prabu Salya, sedangkan mereka bertetangga dengan Pandawa sejak jaman kuno, wahai patihku. Bukankah Salya itu juga ipar Pandu, ayah Pandawa.
Sangkuni terkekeh. Dari mulutnya yang bau kemenyan meluncurlah saran yang jitu.

“Paduka jangan berkecil hati. Prabu Salya punya tiga orang putri. Pinanglah salah satunya. Perkawinan paduka akan menyatukan dua kerajaan.” Doryudana terkesima.

Tetapi memang Balairung itu terlalu terbuka. Banyak kuping yang mendengar. Dalam tempo tidak seberapa lama setelah pertemuan itu muncul kabar, Erawati diculik oleh Baladewa untuk diperistri, sedangkan Surthikanti dilarikan Karna untuk maksud yang sama. Salya yang sombong keberatan jika Erawati diperistri oleh Baladewa, keberatan mana baru mencair setelah Salya tahu bahwa Baladewa juga raja di Mandura.
Sedangkan Surthikanti diikhlaskan menjadi milik Karna sebagai jaminan kesetiaan agar bersedia membela Kurawa saat bharatayuda.

Tinggal satu yang tersisa : Banowati. Tetapi Doryudana ragu, bukankah ia telah berpacaran dengan Arjuna, musuh besarnya. Tetapi ini politik. Keraguan harus disimpan dilaci kusam.

Pinangan segera dilakukan. Salya akhirnya menerima pinangan itu karena Doryudana memberikan seserahan harta yang berlimpah. Tetapi Banowati menolak dengan cara sangat halus. Banowati menetapkan syarat yang pastinya akan ditolak oleh Doryudana. Apakah itu?

“Rama Prabu, saya akan menerima pinangan Doryudana tetapi dengan satu syarat yaitu kelak menjelang perkawinan, saya minta dalam ritual siraman dimandikan diruang tertutup.” Mendengar penuturan putrinya Salya tersenyum. Itu hal yang mudah.

“Yang memandikan adalah Arjuna.” Salya terdiam.

Itu mustahil.

Mendengar syarat itu Doryudana begitu terpukul. Harga dirinya tersinggung dahsyat. Bagaimana mungkin calon pengantinnya mandi siraman dengan Arjuna. Tetapi Patih Sangkuni segera menengahi.

“Paduka, sebaiknya syarat itu diterima saja. Kemenangan di Kurusetra jauh lebih penting dari pada persyaratan yang remeh-temeh itu. Ingatlah bahwa Paduka adalah seorang raja yang bertugas melindungi seluruh Hastina. Para Nabi dan bijak bestari pun sejak dahulu hingga kedepan senantiasa melangsungkan perkawinan politik, demi negara, ingat itu sang Prabu.”

“Tetapi bukan dengan cara seperti ini paman patih.”

“Coba Sang Prabu pikir kembali, Mandaraka punya seratus ribu prajurit. Jumlah sebanyak itu akan jatuh ketangan Pandawa manakala Banowati diperistri Arjuna. Sang Prabu harus bertindak cepat, jangan sampai Banowati terlepas seperti halnya Erawati dan Surthikanti. Toh nanti sang Prabu bisa mengambil istri lagi.” Kalimat terakhir ini diucapkan Sangkuni dengan mata berkedip-kedip.

Doryudana yang lemah itu akhirnya menuruti kata Sangkuni. Godaan kekuasaan menutupi kehormatan. Pernikahan tanpa cinta dari kedua belah pihak akhirnya dilangsungkan juga. Sejak itu, Aswatama semakin tenggelam dalam perasaannya sendiri yang tidak jelas. Sebagai pelampiasan Aswatama giat berlatih olah keprajuritan. Ia merasa akan mengambil peran menentukan dalam bharatayuda. Ia semakin tak tertandingi.

Banowati walau telah menjadi istri Doryudana tetap membuka hati, baju dan kutangnya untuk Arjuna. Ini dilakukan tidak sekali, tetapi berkali-kali, saat Doryudana bertugas menghimpun koalisi atau berburu di hutan. Dan Aswatamalah yang paling tahu tentang rahasia itu.

Rasa cintanya belumlah pupus, karenanya ia selalu mengamati sang dewi, termasuk kala Arjuna menyelinap ke taman sari. Aswatama tahu, cemburu, dendam, tetapi tidak mampu. Wahai dewata, apa yang harus aku perbuat dengan kenyataan ini. Aswatama pernah melaporkan ihwal perselingkuhan itu kepada sidang kerajaan, tetapi dimentahkan oleh Salya, dikatakan bahwa Aswatama hanya cemburu dan berhalusinasi.

Sampailah saat yang mengguncang marcapada. Banowati melahirkan bayi laki-laki. Kebetulan saat itu Doryudana dan keluarga Kurawa sedang di luar kerajaan sehingga tidak melihat langsung rupa bayi yang baru dilahirkan, ia begitu mirip dengan Arjuna. Dengan cepat Banowati mengirim pesan ke Arjuna, bahwa aib dan hukuman akan menimpanya karena rupa bayi itu.

Lelananging jagad itu berdoa agar diberi perlindungan. Alhasil bayi itu berubah wajah menjadi figur yang sedemikian berbeda. Bayi itu diberi nama Lesmana Mandrakumara. Sekali lagi – dalam pewayangan – saya menyaksikan dewa-dewa tanpa malu senantiasa menutupi aib para jagoannya.

Karena doa Arjuna pula bayi itu tumbuh menjadi pemuda yang idiot. Kelak dalam perang bharatayuda Lesmana Mandrakumara mati dibunuh oleh Abimanyu – putra Arjuna dengan Sumbadra.

=======================

Akhirnya Bharatayuda memasuki hari keempat belas. Kurawa menampilkan senopati tangguh, Drona. Kubu Pandawa mengalami kerusakan hebat. Siapa yang bisa menandingi kesaktian Drona?

Hanya Kresna – titisan wisnu – yang sanggup membendung Drona. Tetapi Kresna sudah berjanji tidak akan turun langsung dalam kancah peperangan. Kresna diam, seperti biasa ia memohon agar dibuka rahasia langit.

“Kabarkan pada Drona bahwa Aswatama telah mati. Berbohonglah karena ini siasat perang.”

“Aswatama mati! Aswatama mati!.” Kurusetra gempar, Drona terguncang. Drona melolong bagai anjing mencium arwah.

“Wahai manusia benarkah Aswatama anakku sudah mati?” Teriakan itu begitu nyaring. “Dimanakah dikau wahai Aswatama putra terkasihku?”

Tidak ada jawaban. Berulang-ulang tetap tidak ada jawaban.

Akhirnya Drona terpaksa menemui Pandawa, pribadi-pribadi yang dikenalnya jujur. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa semua mengatakan Aswatama telah mati sesuai pesan Kresna. Drona melolong perih. Ia lebih baik mati saja menyusul Aswatama sesuai sumpahnya. Tetapi Drona tidak lantas percaya sebelum menyaksikan sendiri jasad putranya.

“Dimana Yudistira?
Aku harus menanyakan padanya karena ia paling jujur di muka bumi.”

Yudistira sengaja bersembunyi menghindari pertanyaan Drona. Walau ini strategi perang ia tetap tidak mau berbohong. Apapun yang terjadi ia harus jujur. Itu sudah darmanya. Kresna memahami, cepat atau lambat Drona akan menemukan Yudistira dan akan terbongkarlah rahasia itu, bahwa Aswatama memang belum mati. Ditemuinya Yudistira.

“Wahai putra Pandu, katakan pada Drona bahwa Aswatama telah mati.”

“Tidak kakang,
bagaimana dunia menilaiku kelak jika aku harus berbohong.”

Kresna memahami bahwa Yudistira bukan pribadi yang bisa ditawar. Dengan perhitungan yang luar biasa Kresna membawa seekor gajah yang langsung dibawa kehadapan Yudistira.

“Ketahuilah gajah ini aku beri nama Aswatama.”

Lalu gajah itu dibunuhnya.

“Lihatlah Gajah Aswatama telah mati. Jika kau ditanya Drona, ceritakan bahwa Gajah Aswatama telah mati. Namun pada saat dinda mengucapkan kata “Gajah” hendaknya dipelankan sehingga kuping tua Drona hanya mendengar Aswatama telah mati.”

Sejurus kemudian Drona datang.

“Wahai Yudistira, benarkah Aswatama telah mati?”

“Benar, (Gajah) Aswatama telah mati.”
Pengucapan gajah begitu pelan sehingga Drona yakin bahwa Yudistira, sang manusia jujur, telah menjadi saksi kematian Aswatama.

Drona menjerit. Ia tidak lagi menghiraukan statusnya sebagai senopati, ia berlari sambil berteriak seperti orang gila. Kresna menyimpulkan inilah saat yang tepat untuk membunuh Drona. Saat kewaspadaan telah menguap dari raganya. Saat Aswatama sejati belum muncul di medan perang. Tetapi siapa yang sanggup membunuhnya? Drona tetap berbahaya. Tidak ada yang berani menyongsong tubuh yang terus melolong itu dari arah depan.

“Panggil Drestajumna”, titah Kresna pasti.

Di langit tinggi puluhan gagak melayang kesana-kemari. Suaranya yang buruk membuat gigil pendengarnya. Drestajumna, mesin pembunuh itu, telah menunggu peran dan takdirnya. Sebagai mesin pembunuh ia merasa tidak terikat darma dan hukum perang. Tanpa perasaan Drona yang tengah kalang kabut ditebasnya dari belakang. Perlahan tubuh itu tumbang. Semua terdiam.

Kurusetra terkesima. Babak baru akan terjadi.
Dengan cepat senja sore mengundurkan diri berganti malam layu yang sendu. Yudistira menunduk pilu. Di langit tinggi para dewa pura-pura tidak tahu.

Kehilangan benteng terbaiknya Kurawa akhirnya kalah.

**********

Cinta berbirahi memang tidak mengenal malu.

Begitu perang usai, Banowati – permaisuri Doryudana – menyeberang ke kubu Pandawa dan diperistri oleh Arjuna. Aswatama yang luput dari maut karena bukan termasuk figur yang diincar menyimpan dendam kesumat pada Pandawa yang telah membunuh ayahnya secara licik.

Ia merencanakan balas dendam dengan cara membunuh bayi Parikesit, cucu Arjuna. Dengan terbunuhnya Parikesit dipastikan klan Bharata akan punah dan menjadikan kemenangan Pandawa tidak berarti lagi.

Bersama Kartamarma, sahabatnya, ia menggali lubang di tanah, meniru landak, menembus benteng Pandawa. Saat Aswatama muncul ditengah Benteng alangkah terkejutnya ia tatkala matanya bersirobok dengan tubuh cantik yang dikenalnya, Banowati. Karena hendak menjerit disongsongnya tubuh Banowati dengan keris.

Wanita pujaannya itu meregang nyawa dalam pelukannya. Aswatama menyadari betul ia masih mencintai wanita itu. Ia peluk erat tubuh yang nyaris kehilangan denyut itu. Ini pelukan yang pertama sekaligus terakhir. Pelukan kematian, pelukan yang susah untuk ditafsirkan. “Banowati, mengapa harus seperti ini?”

Terjadi kegaduhan di dalam benteng, rupanya Kartamarma telah ketahuan pihak musuh. Aswatama segera berkelebat cepat. Dalam sedih dan guncang ia tetaplah anak Drona.

Akhirnya Aswatama menemukan kamar Parikesit. Tanpa pikir panjang ia serbu bayi itu dengan hujaman keris. Kurang beberapa langkah, bayi yang terkejut itu menyepak senjata pasopati yang dipersiapkan di kakinya, meluncur deras menghantam dada Aswatama. Dalam regangan nyawa Aswatama berucap lirih, “tunggu aku Banowati.”

Selasa, 02 Juli 2013

LIDAH TAK BERTULANG-KAH?

MULUTMU HARIMAUMU ...!!!

Peribahasa yang berbunyi ”lidah memang tidak bertulang” sungguh benar. Secara fisik jelas benar, karena apabila lidah bertulang maka ia menjadi kaku dan membuat kita sulit untuk berkata-kata. 



Yah, lidah memang tidak bertulang, sehingga dengan sangat mudah kita mengeluarkan berbagai kata-kata, baik yang positif maupun negatif.

Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat tetapi dengan berjalannya waktu ternyata ada orang yang tersanjung, tetapi di sisi lain banyak juga yang tersinggung.

Lidah memang kecil dan lemah, namun dapat menimbulkan dampak yang sangat dahsyat, mampu menimbulkan permusuhan, pembunuhan, bahkan peperangan

Seringkali kita berkata-kata dengan tidak sepantasnya karena kita tidak dapat mengendalikan emosi, sehingga kata-kata yang kita ucapkan tidak dipikir lagi, tetapi terucap otomatis untuk mengumbar kemarahan, kekecewaan, dan lain-lain.

Di sisi lain, kita pun seringkali tidak berani untuk mengatakan yang benar, karena ada perasaan tidak enak, ewuh-pekewuh "nggak enak hati" terhadap teman bicara kita, akhirnya justru kata-kata “sebalik”nya yang kita keluarkan dengan tujuan untuk menyenangkan orang tersebut.

Memang butuh keberanian dan keteguhan hati untuk mengatakan yang sebenarnya, sesuai dengan fakta yang ada dan terjadi.

Bila ada yang tidak berjalan dengan semestinya, hendaknya kita berani mengkritik dan atau men”cela”nya dengan benar dan bijaksana sehingga terjadi perbaikan yang bermanfaat bagi yang kita kritik, syukur bermanfaat bagi banyak orang. Demikian juga bila ada hal yang benar dan prestasi yang luar biasa, maka kita pun perlu berani untuk mengatakan apa adanya. Pujilah yang layak dipuji, dan cela yang salah, tetapi … sekali lagi dengan cara yang benar dan bijaksana.

Ibu Teresa dari Calcuta mengatakan: 


“Kata-kata yang indah bisa saja singkat dan mudah diucapkan, tetapi gemanya tidak pernah berakhir…”. 
Memang dampak dari pujian yang tulus sangat menyenangkan bagi orang yang menerimanya. Sebaliknya kata-kata yang kasar memberikan kesan yang menyakitkan dan menimbulkan sakit hati. 

Ingatlah bahwa mulutmu adalah harimaumu.

Sebelum kata-kata keluar dari mulut kita, sebaiknya kita pikirkan dulu dampak yang akan terjadi, sehingga bila kita anggap dapat menimbulkan dampak negatif, maka ubahlah kata-kata tersebut, atau lebih baik diam dan tidak mengucapkannya. 


Hal ini dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW:

 ” …ucapkanlah kata-kata yang baik, atau (bila tak bisa, lebih baik) diam…”

Demikianlah, karena lidah begitu fleksibel, maka seringkali kita tidak dapat mengendalikan kata-kata yang keluar dari mulut, sehingga yang terjadi adalah penyesalan kemudian.

Jadi marilah kita mengendalikan lidah dengan terlebih dahulu mengendalikan emosi kita, pikirkan setiap perkataan yang akan kita ucapkan. Berikan ungkapan kasih didalamnya, sehingga tidak menimbulkan dampak yang merugikan.

Orang bijaksana berpikir tanpa bicara, 

orang bodoh bicara tanpa berpikir. 

Bila kita emosional mungkin ada orang yang akan tersinggung, jadi mari belajar kendalikanlah mulut kita masing-masing.



SALAM KATRESNAN
JSP 03.06.2013

BE YOURSELF & FOR OTHERS

INGAT ...!!!

Jangan pernah terlalu berharap kepada orang lain agar dapat membantu menyelesaikan masalahmu. 

Apalagi terlalu mengandalkan mereka untuk menuntaskan persoalan yang kini sedang kau hadapi.

Karena pada dasarnya setiap orang itu juga sedang bermasalah dan barangkali juga sedang sibuk merampungkan masalah mereka.

Bahkan pada saat kita mengalami kebuntuan sekalipun, jangan merendahkan dirimu untuk memohon pertolongan siapapun.

INGAT JUGA ...!!!

Jangan pernah kau tutup hatimu, bagi mereka yang berharap banyak kepadamu agar dapat terbantu menyelesaikan masalahnya.

Buka tangan dan hatimu lebar-lebar, bagi mereka yang sangat mengandalkan uluran tangan dan pertolonganmu untuk menuntaskan masalah yang kini sedang dihadapinya.

Karena pada dasarnya setiap orang itu punya tangan dan hati untuk saling memberi dan berbagi kepada siapapun yang datang memintanya.

Bahkan pada saat kita miskin dan tiada daya sekalipun, berikan apa yang kau punya kalau itu bisa membahagiakan mereka.

.....

Jatuh dalam keterpurukan itu sakit kawan...
untuk itu aku senantiasa berharap dalam doa dan puja
agar kalian jangan sampai mengalami hal yang serupa.
Karena seandainya kalian pun juga mengalaminya
aku pun akan merasakan sakit yang sama.

.....

Hope there is still the rest of the miracles in this world
While i am still it any pleasure of living among you ...

Catatan kecil
di awal bulan Juli 2013

Kata-Kata Bijak Mario Teguh

Kata-Kata Bijak Mario Teguh

Senin, 01 Juli 2013

DAUN KESADARAN

Lambat atau cepat 
akan tiba juga pada saatnya,
sehelai daun 
musti mengakhiri tugas hidupnya
sebagai penyejuk 
sekaligus peneduh
bagi semua makhluk Tuhan 
yang hidup disekitarnya.

Ketika waktunya telah datang 
dimana ia harus rela dan ikhlas
meninggalkan tangkainya
diterimanya semua itu
dengan senyum dan lapang hati

sebab ia tahu dengan pasti 
bahwa saat itulah titiwancinya
ia musti kembali kepada ibu bumi 
tidak untuk binasa ataupun mati, 
tapi justru agar makin berarti

dengan sepenuh hati
dipersembahkan diri seutuhnya
dibiarkan dirinya membusuk
untuk diubah jati dirinya 
menjadi penyubur bumi pertiwi.