Selasa, 17 September 2013

SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU - 1

Kisah Dewi Sukesih dan Begawan Wisrawa

Dalam kitab Ramayana, alkisah ada seorang raja yang mengundurkan diri dan diserahkan pada anaknya. Raja tersebut yang menjadi Begawan Wisrawa, menyerahkan pada putranya Prabu Danareja di kerajaan Lokapala.

Di negeri yang lain, Alengka, diperintah oleh Prabu Sumali yang dibantu oleh adiknya Arya Jambumangli, dan puterinya yang sangat cantik sedang diperebutkan oleh para raja. Namanya Dewi Sukesih.

Setiap raja yang melamar Dewi Sukesih ini di bunuh (harus berhadapan dalam perang tanding) pamannya, Arya Jambumangli. Sehingga tak ada lagi raja-raja yang mampu mengalahkan pamanda Dewi Sukesih. Satu-satunya raja yang masih ada ialah putera Begawan Wisrawa, Prabu Danareja. Namun raja ini kalah kuat ilmunya, kalah kuat oleh pamanda Dewi Sukesih. Oleh karenanya Begawan Wisrawa turun dari pertapaan. ”Ada apakah anakku, dalam tapaku, aku melihat kegelapan. Mengapa negeri ini, yang kita cintai, dalam kesengsaraan? Air bening untuk hidup rakyat tidak lagi ramah. Seluruh air kembali lagi pada sumbernya di bawah samudera. Bunga-bunga layu sebelum berkembang, buah yang ada pun tak sempat masak. Diapakan negeri kita ini, wahai anakku?”

”Wahai ayahanda, seluruh kehidupanku dirampas oleh cinta Dewi Sukesih, dan aku tak mampu memikirkan bangsa ini, negeri ini. Yang kupikirkan adalah kecantikan Dewi Sukesih”, berkata Prabu Danareja.

”Wahai anakku, Sang Dewa marah padamu. Karena engkau telah mematikan kesuburan negara ini dengan asmara, wahai anakku, jangan jadikan asmara ke dalam pekerjaan yang besar. Karena asmara adalah dunia kecil yang mampu menghancurkan dunia yang besar”, kata Begawan Wisrawa.

”Wahai anakku, jangan engkau melihat kebenaran-kebenaran yang ada di muka bumi ini, melalui perasaan asmaramu. Keluhuran nilai akan ternoda, tak bermakna, manakala diteropong oleh perasaan asmaramu. Namun demikian, aku ayahmu pernah merasakan perasaan asmara. Biar aku yang melamarkan, menyunting Dewi Sukesih. Ayahnya adalah sahabatku. Cintaku untukmu wahai anakku, biarlah aku, ayahmu mewakili datang ke kerajaan Alengka.”

Sesampainya Begawan Wisrawa di kerajaan Alengka, kebahagiaan batin dari raja Alengka, Prabu Sumali, menyatu dalam pelukan mesra dengan sahabatnya.

”Wahai sahabatku Prabu Sumali, ada apakah? Kesenduan di matamu tak mampu engkau sembunyikan”, bertanya Begawan Wisrawa.

”Wahai sahabatku Begawan Wisrawa, gara-gara anakku, darah para raja harus mengalir di negeri yang kucintai ini, Alengka.”

”Karena itu aku datang untuk menyunting puterimu, untuk anakku.”

Maka dipanggillah Dewi Sukesih oleh ayahandanya, dan diceritakan akan disunting oleh seorang raja dari Lokapala.

”Wahai ayahku, aku mau dikiwini oleh seorang raja atau oleh orang miskin sekalipun. Asal mampu memedarkan, menerangkan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.”

”Wahai puteri sahabatku, calon suamimu, anakku, takkan mampu. Dan siapapun takkan mampu menerangkan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, kecuali aku. Harus kutebus makna ini dengan meninggalkan gemerlap kekayaan dan kekuasaan sebagai raja. Namun demikian, biarlah, untuk anakku dan untuk aku, akan aku pedar Sastra Jendra tersebut”, kata Begawan Wisrawa kepada putri Prabu Sumali sahabatnya.

Berkata Begawan Wisrawa pula pada sahabatnya, Prabu Sumali,

”Wahai sahabatku, akan aku bawa puterimu, siapkan tempat, sebuah taman sunyi yang hanya ada bunga Kenanga.”

Maka Begawan Wisrawa membawa Dewi Sukesih. Manakala masuk ke taman yang indah, Begawan Wisrawa memandang Dewi Sukesih dengan kecintaan seorang ayah pada anaknya.

”Kesinilah putriku.” Saat itu pula Dewi Sukesih merasa berdiri di bumi ini, dan dunia ini hanya ada di telapak kaki Dewi Sukesih dan Begawan Wisrawa, serta mampu menggapai bulan yang ada, tidak hanya satu, tapi tiga.

”Wahai Dewi Sukesih, engkau mampu menggenggam bulan. Keanggunan dan kemolekan bulan sejak dulu selalu menghina dan memperkecil makna duniawi. Namun dihadapanmu wahai putriku, sang bulan meronta. Cahayanya engkau ambil alih ke dalam jiwamu.”

Saat itu pula, Dewi Sukesih merasa retak hatinya. Sakit yang tiada sebab, seperti benci pada seseorang tapi tak ada orangnya. Resah oleh sesuatu tapi tak ada kesalahan, kesal akan sesuatu tapi tidak tahu sebabnya. Emosi bergemuruh dalam diri Dewi Sukesih!

”Wahai putriku, jangan engkau membiarkan gejolak emosimu menjadi tuan di dalam dirimu. Bulan yang angkuh tak berdaya, karena engkau ambil alih kemolekannya, dan energinya kembalikan pada bulan. Wahai puteriku, engkau tak mampu menerima kemolekan bulan, karena sang rembulan, cahayanya menjadikan bunga-bunga berkembang, menjadikan binatang-binatang memadu cinta, maka berkembanglah keturunan kelestarian alam ini oleh cahaya kekuatan rembulan. Jangan kau ambil alih kedalam jiwamu. Engkau adalah yang berdarah dan berdaging. Manakala kau menyimpan cahaya rembulan di dalam jiwamu, berarti engkau merampas hak hidup bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan. Itulah sebuah permulaan dari Sastra Jendra, wahai puteriku.”

Maka Dewi Sukesih dengan kekuatan bathinnya, mengusir luka didalam bathinnya, kesakitan dalam perasaannya. Bulan yang redup, terampas cahayanya oleh Dewi Sukesih, kembali bersinar terang.

”Wahai Puteriku”, berkata Begawan Wisrawa, ”Sastra Jendra adalah bukan kata-kata, Sastra Jendra bukan kalimat, Sastra Jendra adalah ’sesuatu’ yang mempunyai wadah, tapi ada di alam dunia ini. Ada di bumi ini, ada dalam cakrawala dan ada dimanapun. Tapi Sastra Jendra tak mampu tertampung karena wadahnya belum ada.”

Manakala Begawan Wisrawa mengakhiri kata-kata ini, mengangkasalah keduanya, ke suatu tempat yang sangat jauh. Sampailah ke suatu tempat yang sunyi, mencekam!

”Wahai Puteriku, jangan menjerit, karena disini tiada siapapun. Tiada orang yang bisa dipanggil, tiada apa-apa tempat berpijak. Tidak ada sesuatupun permasalahan.”

”Wahai puteriku, disini kita tidak memiliki dan disini kita tidak dimiliki. Dan engkaupun disini tidak lagi memiliki dirimu sendiri. Dirimu yang berdarah dan berdaging, dirimu yang berjiwa dan berperasaan, adalah ketiadaan.” Demikian sang Begawan bertutur.

”Kita dalam ketiadaan, rasakanlah anakku, manakala engkau kehilangan rasa memiliki, termasuk dirimu sendiri. Kita dalam kematian. Kematian adalah melepasnya rasa memiliki. Dibalik kematian justru ada kehidupan yang sejati. Kehidupan yang tidak dapat lagi dialas oleh definisi, kehidupan yang tidak mulai dari awal dan tidak berakhir dari satu batasan.Itulah Jatining Hurip.”

”Wahai anakku, kematian adalah sebenarnya sebuah proses kehidupan yang lebih luas dari proses kehidupan sebelumnya, kita berada dalam kehidupan yang sejati. Tenang dan tentram, karena merasa tidak dimiliki dan tidak memiliki”, demikian sang Begawan.

”Wahai Puteriku, manakala engkau merasa memiliki, engkau akan menggugat pada yang engkau miliki. Dan merasa engkau dimiliki, engkaupun akan digugat oleh mereka yang merasa memiliki dirimu. Kini kita merdeka, kemerdekaan bathin dan perasaan yang tiada batas.”

”Wahai Begawan, dimanakah dewa-dewa?”

”Di sini tidak ada dewa, wahai Puteriku. Dewa pun tiada, hanya kita. Manakala engkau ingat pada dewa, berarti kita masih ’merasa’ ingin memiliki. Dewa pun tidak ada, hanya kita berdua.”

Maka Dewi Sukesih merasa tenang dan tenteram. Ketenteraman yang sangat tinggi dan indah, kesejukan bathin yang tiada tara. Maka mereka masuk lebih jauh lagi.

”Mari kita masuk lebih jauh ke angkasa ketentraman.”

”Kita akan kemana? Bukankah kita sudah sampai ke alam ketenteraman, wahai Begawan”, tanya Dewi Sukesih”.

”Belum, diatas ketenteraman ada ketenangan, diatas ketenangan ada kemegahan kesejukan. Itu tidak terbatas, wahai Puteriku.”

”Dimanakah puncaknya, wahai Begawan?”

”Puncaknya, ada didalam cinta. Kita menuju cinta, wahai Dewi Sukesih.”

Maka sampailah ke suatu perbatasan. Alam cinta dimasuki.”

”Anakku, kita masuk ke Sastra Jendra. Tiada alam diciptakan oleh Illahi, kalau bukan karena cinta. Manusia dan hewan tidak mungkin ada tanpa cinta. Alam raya takkan tercipta tanpa cinta. Kita masuk, wahai anakku ke dalam cinta. Itulah Sastra Jendra.”

Masuklah mereka ke alam cinta. Masuklah Dewi Sukesih ke alam cinta. Maka jiwa bukan lagi terbatas oleh rasa tenteram, dibatasi oleh rasa tenang saja. Tetapi jiwanya tiada. Ketenteraman melampaui Kebahagiaan. Tiada lagi dikatakan bahagia, tiada lagi dikatakan nikmat, tiada lagi dikatakan enak. Diatas segalanya.

Maka gelombang cinta itu menyibakkan rambut Dewi Sukesih yang berkonde. Rambut terurai, bergelombang begitu indah terhempas cinta. Cinta, bisa dirasakan, tapi tak bisa dilihat. Cinta, bisa dinikmati tidak melalui kulit dan daging. Karena saat itu, Dewi Sukesih tidak lagi memiliki dirinya sendiri. Cinta yang sesungguhnya, bisa diraba oleh sesuatu, manakala manusia kehilangan eksis fisiknya, eksis fikirannya dan eksisnya. Maka di alam itu, mengalirlah sungai yang bening. Sungai tak bernama sebagaimana sungai Eufrat, sungai Nil ataupun sungai Ciliwung. Namun sungai itu bening, sungai mengalir membawa energi cinta, kasih sayang.

”Wahai Puteriku, lihatlah sungai. Waktu tidak lagi bergerak, tapi waktu bergerak dibawa oleh kita. Seperti sungai yang melepas air-airnya, dia tetap diam. Waktu harus kita gerakkan, bukan kita yang digerakkan oleh waktu, wahai anakku. Walaupun sungai itu diam, tapi selalu baru. Kehidupan, wahai anakku, harus tetap baru. Usia menguasai kita, tapi kita akan tetap baru, jiwa kita dan perasaan kita. Kita tidak boleh harus tua oleh waktu, kita harus tetap muda, walau kita dirongrong oleh waktu. Kekuatan cinta tidak lagi termakan oleh usia. Tua dan muda, gagal menggoyangkan kemurnian cinta itu sendiri.” Demikian Begawan berkata pada Dewi Sukesih.

”Namun demikian sungai menurun, tidak pernah menanjak, wahai anakku. Lihatlah kehidupan. Kita jangan cari yang menanjak. Kita harus seperti sungai yang mengalir tanpa beban. Berbelok-belok dihimpit oleh gunung. Biasa, kehidupan harus terhimpit namun sekecil apapun himpitan gunung, sungai tetap mengalir, walaupun melalui celah-celah yang sempit.” lman tetap mengalir walau himpitan persoalan hidup seperti gunung yang menggencet.

”Wahai puteriku, jangan kalah, ngalirlah tetap. Kehidupan tetap mengalir.” Maka masuklah ke alam yang baru, lebih tinggi lagi. Di sana mereka tidak melihat masa lalu. Masa lalu tidak ada!

”Wahai Begawan, dimanakah aku waktu dilahirkan? Aku waktu remaja, saat bermanja pada Ayah dan Ibu?”

”Wahai Puteriku, masa lalumu tidak ada. Di sini tidak ada masa lalu, disini tidak ada bedanya. Masa lalu adalah kehidupan dunia. Di sini tidak ada masa lalu.”

”Wahai Begawan, manakah masa depanku?”

”Di sini tidak ada masa depan. Masa depan adalah kehidupan dunia, karena manusia dunia dirancang untuk bercita-cita, melihat masa depan. Dibangun oleh keinginan maka melihat masa depan, dibentuk oleh rencana kerja. Di sini Puteriku, tidak ada masa depan. Kita tidak ada lagi rencana keinginan, apa dan bagaimana. Di sini adalah keberadaan yang sesungguhnya. Bumi adalah bayang-bayang kita dalam kehidupan. Itulah Puteriku”, kata Begawan Wisrawa.

“Kalau demikian, wahai Begawan, apakah ’kerinduan’? Sedangkan aku merindukan masa depan yang lebih baik. Masa depan adalah kerinduan, dimanakah kerinduan. Ditempat ini tidak ada, wahai ayahku.”

”Wahai Puteriku, Kerinduan di sini tidak ada. Tapi ada dalam bathinmu dan jiwamu. Kerinduan akan sesuatu, ada dalam jiwamu. Dan dalam jiwamu lebih besar, lebih agung, lebih hebat dari alam ini, wahai anakku. Itulah Sastra Jendra. Sastra Jendra adalah kerinduan yang tersembunyi dalam bathin. Kerinduan bukan kepada anak isteri, kerinduan bukan pada suami, kerinduan bukan pada kekasih, kerinduan bukan pada harta dan kekuasaan. Kerinduan kepada sesuatu, dimana sesuatu itu pun kita tidak tahu. Itulah Sastra Jendra, wahai anakku.”

Maka, ”Wahai Puteriku, bila engkau merindukan sesuatu, jangan disini. Di sini tidak ada masa lalu dan masa depan. Di sini tidak ada keinginan dan harapan. Kembalilah kepada hati, wahai Puteriku. Hatimu yang ada kerinduan.”

”Masuklah kembali ke dalam hati, di sana ada kerinduan. Di sana ada kehidupan yang sesungguhnya, wahai Puteriku.”

Maka sang Dewi masuk ke dalam bathinnya sendiri, ke dalam perasaannya sendiri. Maka dijemputlah sang Dewi oleh cahaya gemilang, gemerlap sinar yang keindahannya melampaui cahaya matahari. Dan seluruh cahaya matahari di alam raya padam, tiada arti oleh cahaya yang datang dari bathinnya sendiri.

”Wahai Begawan, cahaya apakah itu?”

”Itu adalah cahaya dari yang engkau rindukan. Itulah Sastra Jendra, wahai Puteriku.”

Manakala cahaya tersibak, disana ada Kebijaksanaan, kebijaksanaan yang tersembunyi, kebijaksanaan yang tersimpan dari ribuan lapis perasaan hati. Kebaikan hati, keikhlasan, kepasrahan, itu adalah membentang rapat menutupi Kebijaksanaan.

”Wahai Puteriku, sibaklah hati pasrahmu, Puteriku, sibaklah hati kebaikanmu, sibaklah hati keikhlasanmu maka ada Kebijaksanaan. Kebijaksanaan ada di tempat yang paling dasar dari sibakan keikhlasan. Sibaklah hati yang baik.”

”Mengapa demikian wahai Begawan?”

”Karena kebijaksanaan adalah tetesan dari kesakitan yang tak mampu lagi menimbulkan luka. Dari kesakitan yang tidak lagi memberikan hujan duka. Dari tetesan kesenangan yang tak mampu lagi menggembirakan. Kegembiraan dan duka, punah! Itulah kebijaksanaan, wahai Puteriku. Itulah Sastra Jendra.”

”Kebijaksanaan”, kata Sang Begawan, ”Seperti malam bersayap siang, seperti siang berparuh malam. Seperti kematian yang berkafankan kehidupan. Seperti kehidupan yang berselimutkan kematian. Rembulan di siang hari, matahari di malam hari, itulah kebijaksanaan. Itulah Sastra Jendra, wahai Puteriku.”

Sang Dewi pun tenggelam dalam kebijaksanaan. Di alam itu, sang Dewi muncul lagi rasa sengsara yang tak bertepi. Rasa duka yang luar biasa, Namun, manakala rasa kesakitan yang tinggi, muncul dalam jiwanya, tiba-tiba, tanpa proses. Tenang…senang yang melonjak! …..Terus demikian! Antara sakit dan senang diubah tiba-tiba. Proses psykologi yang tak mampu menampung perubahan yang sangat hebat. Dari sakit ke senang, dari duka ke tenang, dari resah ke aman, tiba-tiba. Terus demikian berganti-ganti.

”Wahai Begawan, apakah ini?”

”Ini adalah tangga-tangga menuju jagad raya, yang tak bertepi. Kita datang ke suatu tempat, Sumber Pencipta Alam Raya ini. Anakku, tangga-tangganya berlapis kesengsaraan yang tidak terhingga dan kebahagiaan yang tak terhingga.” Sang Dewi pun masuklah.

Manakala jiwanya tak terkecoh oleh duka dan senang, oleh rasa dan tenteram. Masuklah ke suatu alam, dimana di alam ini semuanya tidak ada lagi proses permulaan dari kejadian. Proses awal dan akhir. Maka Sang Dewi merasa malu kepada dirinya sendiri. Yang tadinya bangga dengan dirinya, bangga dengan kecantikanya. Saat itu, sang Dewi malu pada dirinya sendiri dan malu kepada alam, keadaan alam saat itu.

”Wahai Begawan, aku malu pada diriku.”

”Wahai Puteriku, manakala engkau malu pada dirimu berarti engkau kembali kepada kehidupan yang sesungguhnya. Manakala engkau malu pada alam ini, engkau sebenarnya kembali pada sumber awal kehidupan. Engkau berangkat dari sini, wahai anakku, dilahirkan ke bumi.”

”Aku pun malu yang tidak mengerti”, berkata sang Dewi.

”Wahai Puteriku, pengertian malu adalah malu pada Penciptamu. Ada disini Pencipta kita, kita tidak bisa melihat. Tapi kita ada dalam genggaman sang Maha Pencipta. Kita sedang berenang di Samudera keillahian, wahai Puteriku.”

Tidak lama kemudian, Dewi Sukesih menemukan keindahan, keindahan sebuah permulaan. Dimana segala sesuatu tidak lagi melalui pengertian. Pengertian yang tidak perlu dipelajari.

Pengertian tidak perlu dipelajari, perasaan-perasaan rasa tidak lagi harus dibuat. Dia sampai pada puncak keindahan tiada tara.

”Wahai anakku, kita sudah sampai pada puncak kebahagiaan. Tiada lagi kebahagiaan selain di tempat ini, wahai anakku. Kebahagiaan yang tak bisa dipetik dengan ilmu. Kebahagiaan ini, tak bisa dipetik, dipanen dari amal ibadah. Kebahagiaan yang bukan dipetik dari pengorbanan. Itulah puncak kebahagiaan.”

”Wahai Begawan, bilamana kebahagiaan ini yang bukan dipetik dari pengorbanan, apakah itu?”

”Itu adalah ’Hayuningrat’ anakku, Sastra Jendra HayuningratHayuningrat adalah kebahagiaan bukan yang dirintis dari keinginan berbuat baik, tapi Hayuningrat adalah ’Izin Illahi’ dalam memberikan sesuatu. Bukan keinginan kita, bukan jerih payah kita, Kehendak-Nya. Itulah Sastra Jendra Hayuningrat, wahai anakku.”

Hayuningrat adalah penyerahan diri total. Kebahagiaan yang begitu meresap ke dalam jiwa sang Dewi. Maka muncul kebahagiaan baru yang berlapis-lapis. Tambah mengangkasa tambah indah. Ternyata kebahagiaan pun berlapis-lapis tak bersisi, kebahagiaan yang tak ada limitnya.

”Wahai Begawan, kita menuju kemana?”

”Kita arungi kebahagiaan yang tak bertepi.”

”Apakah…..apakah ada tempat puncak?”

”Ada, puncak kebahagiaan.”

”Bagaimanakah cara sampai ke sana, wahai Begawan”,

”Wahai Puteriku, adakah sisa perasaan dalam hatimu untuk dipersembahkan?”

”Ada.”

”Apa?”

”Aku rindu kepada Tuhan.”

Dewi Sukesih merasakan, kebebasan sebebas-bebasnya tanpa rasa kekangan dari perasaannya sendiri. Artinya, setiap manusia mengalami himpitan dalam mengarungi kehidupan. Namun saat itu, Dewi Sukesih terbebas dari apapun yang menghambat dalam perasaannya. Dia terbang di alam Yang Maha Merdeka, Maha Sentosa, Gemah Ripah Loh Jinawi. Angkasa kebebasan yang sangat demokrasi.

”Wahai Puteriku, terbanglah sejauh-jauhnya, kepakkan sayapmu.”

Maka Dewi Sukesih terbang yang sebebas-bebasnya, seperti merpati yang mengarungi angkasa luas.

”Namun Puteriku, jangan terlalu jauh dalam terbang. Sejauh-jauh merpati terbang, akhirnya akan lelah jua. Sebelum lelah engkau harus kembali.”

Dewi Sukesih merasa sebagai manusia yang punya harkat, merasa dirinya mempunyai makna. Betapa dekat dengan yang menciptakannya, kasih sayang-Nya, terasa membeli jiwa. Sang Dewi merasa mendapat titah dari Hyang Widhi, dan merasa seolah-olah dirinya tidak berhak lagi hidup di dunia. Dirinya enggan pulang ke bumi.

”Wahai Puteriku, jangan munculkan perasaan itu. Di sini adalah hak setiap manusia, di sini adalah hak setiap makhluk. Namun bumi pun adalah hak kita. Sekalipun engkau merasa tidak berhak lagi di dunia, namun fisikmu, dagingmu masih terikat oleh hukum dunia. Kematian masih memijak alam bumi ini. Engkau tidak akan mampu jauh di alam kebahagiaan ini, sedang kau masih punya raga di dunia. Jangan lupakan itu”, berkata Begawan Wisrawa.

Terus sang Dewi mencoba berusaha melupakan duniawi. Dunia terlalu hina dirasakan, niat baiknya sering dinodai.

”Wahai Begawan, segala keinginan yang baik selalu terjegal oleh noda dunia, aku enggan kembali ke bumi. Setiap pengorbanan yang kupersembahkan dengan ikhlas, selalu dihina oleh mereka yang hidup di dunia. Wahai Begawan, setiap bunga-bunga dihatiku kuungkapkan dalam kerinduan kepada rakyat, kepada mereka, kepada yang aku cintai. Namun mereka tidak pernah melihatku bahwa aku mempersembahkan keindahan, keikhlasan kepada mereka. Aku muak kepada dunia yang penuh kehinaan dan kekotoran.”

”Wahai Dewi Sukesih Puteriku, jangan engkau merasakan perasaan itu. Usirlah, rasa menghina bumi. Karena bumi, Tuhan pula yang menciptakan, sama pula menghina Tuhan, kalau engkau menghina dunia atau bumi. Stop gejolak penjelajahan perasaan seperti itu. Kita masih di dua alam. Keterikatan dengan bumi dan mengarungi hak kita di alam jagad ini.”

Namun Dewi Sukesih nakal, tetap diarungi. Tidak mau kembali ke dunia. Tiba-tiba keresahan bergelombang kembali. Keresahan bukan berasal dari alam keindahan ini. Alam surga Nirwana yang maha nikmat, tetap dengan segala keindahan dan kesempurnaan. Keresahan dan gejolak pilu datang dari bathinnya sendiri. Resah, merasa kotor, merasa terhina, ternoda.

”Wahai Begawan, aku merasa malu. Bukan malu seperti dulu, tapi aku malu kehinaan diriku. Betapa aku kotor di tempat ini, aku tidak pantas di tempat yang suci ini, wahai Begawan. Aku tidak pantas di tempat yang Agung ini, karena aku ternoda, karena noda itu aku sendiri yang menciptakan, wahai Begawan. Kenapa demikian wahai Begawan?”

”Wahai Puteriku, engkau, aku, memang datang dari noda, berangkat dari noda. Berangkat dari kesalahan, pergi menuju ke kesalahan. Kita menyimpan jagad kesalahan dalam diri kita, walau di tengah surga yang indah ini.” Demikian Begawan Wisrawa berkata. ”Karena itu Puteriku, engkau harus ’diruwat’, supaya Tuhan mensucikan jagad kita yang ternoda.Pangruwating. Karena dalam jiwa kita penuh nafsu dan amarah. Angkara murka yang tak bersisi, keserakahan yang tak berbentuk lagi. Itu harus diruwat oleh Illahi. Pensucian jagad kita, karena kita tetap dalam kekotoran, walau kita mengangkasa di jagad keindahan yang sangat permai, yang sangat suci, yang sangat agung”, Begawan Wisrawa meneruskan keterangannya.

”Marilah kita kembali, Sastra Jendra sudah kupedar, Hayuningrat sudah kupedar, Kita harus kembali ke bumi, segera! Supaya Hyang Widhi mensucikan jagad kita yang sudah kelam dalam kekotoran dan noda.”

Namun karena keindahan yang luar biasa. Terhanyutlah sang Dewi Sukesih dengan Begawan Wisrawa sendiri, hingga sampai ke gerbang Kahyangan, pintu surga, pintu Nirwana, tempat para dewa bersemayam. Gerbang ini dinamakan Sela Menangkep pintu masuk surga. Menjelang gerbang Sela Menangkep, maka goyanglah jagad tersebut. Jeritan-jeritan Raksasa datang. Berjuta raksasa datang, hawa nafsu-hawa nafsu membentuk berjuta raksasa-raksasa. Aroma bau. Bau kematian. Lebih bau daripada mayat basah. Erang harimau raksasa. Kemarahan para raksasa bergelombang.

”Wahai Puteriku, raksasa itu tidak ada di jagad ini, digerbang Kahyangan ini. Itu ada dalam jagad dirimu. Kecantikan wajahmu, itu mengerang seperti harimau. Sesungguhnya kecantikan adalah harimau. Senyummu sebenamya erangan harimau, keindahan tubuhmu sebenarnya raksasa yang buruk muka. Kemarahan mereka, sebenarnya kemarahan dirimu, wahai Puteriku, yang ada di jagad ini. Dan bau yang melampaui bau mayat yang basah, itu hatimu sendiri. Karena manusia tak mampu melepaskan dari rasa persaingan sesamanya, tidak mau melepaskan dari keterpenjaraan benci, kebencian. Perbedaan kebenaran saja, walaupun kebenaran yang sama, itu menimbulkan kebencian. Itulah bau yang sangat buruk, aroma mayat yang rusak, wahai Puteriku. Dan kau masih memiliki hati itu.”

Dan tiba-tiba muncul roh-roh halus, lembut, merekah beraroma sangat wangi, melampaui aroma wangi-wangian apapun. Berpakaian manik-manik putih, berbusana putih murni.

”Itu tidak ada dalam jagad ini, itu ada dalam jagadmu, wahai puteriku. Itu adalah rukhmu, kesucianmu, kelembutanmu. Engkau memiliki kemurnian dari Rukh yang suci.”

Dan tiba-tiba raksasa yang jahat berperang dengan rukh yang suci. Peperangan saling mengalahkan, tiada yang menang, tiada yang kalah. Rukh suci dikalahkan oleh rukh jahat, maka rukh suci bangun kembali seketika. Begitu pula sebaliknya. Maka peperangan tidak lagi dibatasi oleh kemenangan, juga tidak diakhiri oleh kekalahan.

”Wahai anakku, itulah kehidupan dunia. Tidak akan ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Cepatlah kembali pada kehidupan dunia., wahai Puteriku.”

Maka rukh halus dan rukh jahat hilang, yang ada adalah jagad ketenangan dalam hatinya, Kemudian muncullah kekuatan, berupa sinar yang datang dari dada Dewi Sukesih.

”Puteriku, itulah Kencana Rukmi. Diantara keinginan menang, diantara takut kalah, ada sesuatu yang netral. Yang tidak ingin menang dan tidak ingin kalah. Itulah Kencana Rukmi dalam dadamu. Kencana Rukmi inilah tempat paling aman, tempat yang paling menyelamatkan. Di sini di Kahyangan engkau tenteram dan aman. Di bumi pun dengan Kencana Rukmi ini kamu akan selamat.”

Kencana Rukmi, mengikis habis keresahan di malam.hari, kekelaman jiwa dalam kegelapan. Kencana Rukmi memotong harapan-harapan illusi dari sebuah harapan kosong tentang kenikmatan. Kencana Rukmi membenarkan kenyataan haq dan menyalahkan kebenaran semu. Karena Kencana Rukmi, laksana sinar yang datang dari sumber Illahi, tembus sampai ke dasar bumi.

”Ikutilah wahai Puteriku, cahaya itu. Kencana Rukmi alat untuk mengarungi kehidupan. Cahaya dari ALLAH, cahaya Illahi yang sampai ke dasar hati.” 

Begawan Wisrawa dengan Dewi Sukesih tambah tinggi-tambah tinggi, mengarungi lapisan-lapisan kebahagiaan yang tiada tara, melampaui ketenteraman dan kedamaian. Makna ketenteraman dan kedamaian itu adalah ”sela” atau batasan kecil dari rasa aman di muka bumi. Tapi dijagad tersebut, di perbatasan alam Kahyangan, kedua orang ini terhanyut oleh alam kebahagiaan. Di mana alam kebahagiaan ini memiliki satu kenikmatan yang tak terhingga, walau masih kosong atau sepi dari energi Ke-Illahi-an. Berarti alam Kahyangan atau alam surga adalah jagad nikmat kebahagiaan yang mengandung energi ke- Illahi-an.

”Wahai Dewi Sukesih”, kata Begawan Wisrawa, ”Kita harus kembali secepatnya ke bumi.”

”Mengapa demikian wahai Begawan?”

”Karena kita ini masih memiliki raga. Di sini, di alam Kesucian tidak ada alatnya untuk mensucikan tubuh kita. Dan tiada mampu alam ini mensucikan jagad kotor yang kita simpan dalam jiwa kita. Sekalipun dunia penuh noda tapi di sana tempatnya ’pensucian’, tempat ’meruwat’.”

”Namun Begawan, saya tak mampu melepaskan kerinduan yang sangat kepada sesuatu yang ada di balik Kahyangan. Kita harus masuk ke pintu Kahyangan”, kata Dewi Sukesih.

”Apakah wahai Begawan, yang menarik jiwa ini untuk masuk ke Kahyangan. Walau pikiranku tidak merindukan kenikmatan Surgawi. Tidak merindukan kenikmatan Kahyangan. Bathinku merindukan yang menciptakan Kahyangan itu sendiri. Apakah itu, wahai Begawan?”

”Itu adalah ’Budi’, jawab Begawan Wisrawa, ”Budi yang ada dalam jiwa kita, yang tersembunyi, karena Budi berangkat dari Ke-Illahi-an. Maka, meronta, bergerak, selalu menuju pada sumber Ke-Illahi-an.”

Maka manakala menjelang Sela Menangkep, pintu surga terbuka, dengan kegembiraan yang sangat, sang Dewi masuk. Yang tadinya Begawan menasehati untuk mengajak pulang, sang Begawan pun tersedot untuk ingin masuk ke pintu Kahyangan tersebut. Maka bumi berguncang-guncang, evolusi matahari berubah, alam raya, acak! Samudera menggelegar, banyak permukaan bumi tergenang air laut. Daratan menjadi lautan. Para raksasa yang tadinya gagah, menangis pilu. Rukh jahat mengerang kesakitan, meronta, memanggil-manggil Hyang Widhi. Memanggil-manggil Tuhannya. Maka yang tadinya raksasa-raksasa dalam jagad sang Dewi pun keluar, masuk ke Kahyangan. Menghalangi pintu-pintu Surga.

”Wahai manusia, belum saatnya engkau meninggalkan dunia. Kasihan bumi kau hina, kasihan bumi kau injak-injak, kasihan bumi kau lecehkan”, kata raksasa-raksasa dan rukh-rukh jahat lainnya.

Para Dewa pun resah!

Maka Batara Guru mengumpulkan para Dewa, para Batara dan para Bidadari. ”Jagad kita, jagad Nirwana ini mulai terancam”, kata Batara Guru. ”Ada anak manusia mencoba masuk kesini, melalui tangga-tangga Sastra Jendra Hayuningrat. Kita harus menutup pintu masuk ini, karena mereka belum saatnya masuk ke Indra Prastha yang kita cintai ini.”

”Wahai Batara Guru, siapakah yang datang?” bertanya Batara Narada.

”Dua anak manusia, perempuan dan laki-laki”, jawab Batara Guru.

”Wahai Batara Guru, kita tidak perlu resah. Tempat kita Kahyangan ini mana mampu dimasuki oleh manusia sebagai perempuan dan laki-laki. Di sini tidak ada batasan perempuan dan laki-laki, kita tidak perlu resah. Dua manusia itu belum saatnya masuk Kahyangan”, Batara Narada melanjutkan keterangannya, ”Karena walaupun mereka sudah masuk ke Sastra Jendra, tetapi di balik hatinya yang terdalam masih merindukan dosa-dosa, masih merindukan noda-noda. Walaupun mereka sudah hening dari kerinduan-kerinduan itu sendiri.”

”Wahai Dindaku”, berkata Batara Guru pada isterinya, Betari Uma.”

”Bagaimanakah pendapatmu, tentang dua orang yang mencoba memasuki Kahyangan ini?”

”Wahai Kakandaku, walau aku wanita tapi di sini aku kehilangan kewanitaanku. Karena kewanitaanku sudah kukorbankan dalam Sastra Jendra yang panjang. Aku dihadapanmu wahai suamiku, bukan lagi feminim. tapi aku adalah aku sebagai sumber awal kehidupan”, jawab Betari Uma.

”Dan bagaimanakah dengan Dewi Sukesih yang mencoba masuk ke Kahyangan ini?”

”Biarlah, dia masih membawa keangkuhan wanita, sang Begawan pun masih membawa keangkuhan pria. Bukankah Nirwana ini dibentengi oleh keangkuhan rasa wanita dan keangkuhan rasa lelaki? seperti aku, wahai suamiku. Sewaktu aku pernah ke bumi”, kata Betari Uma selanjutnya, ”Perempuan di puncak keanggunannya, di puncak kesuciannya. Taman bunga di jiwanya, taman bunga di dagingnya, taman bunga di perasaannya. Bunga-bunga Menur tercuri oleh lelaki. Maka wanita tak merasa tercuri kesuciannya oleh lelaki. Bunga Menur, aku pun tercuri oleh lelaki saat di bumi. Namun aku tak mampu, tak bisa, merampas bunga Menur. Karena keperawanan bukan dua kali, hanya sekali. Keperawananku dicuri lelaki. Seperti seorang gadis yang tidak tahu, bunganya telah dicuri dari Taman hatinya. Rasa ego wanita, merasa tak tercuri kesuciannya. Karena rasa ego wanita, dirinya harus mempersembahkan kepada sang suami. Itulah cinta yang aku rasakan sebagai penduduk bumi, wahai suamiku.”

”Begitupun seorang lelaki, wahai isteriku”, berkata Batara Guru, ”Setelah mencuri bunga Menur dari Taman hati seorang wanita, seperti lebah yang kehilangan sengatnya. Jangan harap mereka mampu menikmati Surga, karena mulutpun mereka tak punya. Lelaki datang ke surga mau menikmati kenikmatan Surgawi, namun seperti kumbang yang datang pada bunga raksasa penuh madu, tapi tak punya alat untuk menghisap. Karena isapannya cuma satu, sudah digunakannya untuk mencuri bunga Menur dari taman hati seorang gadis.”

”Dimanakah Sastra Jendra wahai suamiku? Manakala seorang wanita kehilangan bunga Menurnya, dan saat lelaki kehilangan sengatnya?” ”Sastra Jendra tetap ada”, jawab Batara Guru, ”Menunggu sampai mengerti, kenapa kehilangan bunga Menur dan kenapa kehilangan sengatnya. Tetap tidak berakhir kesempatan untuk meraih Sastra Jendra, wahai isteriku.”

Maka seluruh makhluk di alam raya, berbondong-bondong datang. Diantaranya ada Warudoyong, Pocong, Singabarong, Jerangkong (rukh-rukh yang belum sempat memiliki fisik).

Warudoyong adalah sejenis rukh yang mendambakan fisik, untuk makan tidur.

Singabarong, perlu fisik untuk menyatakan cintanya, untuk menyatakan kebenciannya.

Pocong adalah bentuk rukh yang mendambakan fisik, daging dan darah, supaya kelaminnya bisa kimpoi, untuk menikmati seksual. Mereka merasakan sensual, tapi tak punya kelamin karena tak berfisik.

Jerangkong, perlu fisik untuk bisa menyayangi, untuk bisa membunuh, untuk bisa menyiksa sesamanya.

Adapun rukh-rukh marakayangan, yang pernah hidup di dunia, namun kematiannya masih membawa nafsu secara sempurna.

Brakasaan, Banaspati, Gandarwa dan seluruh rukh-rukh baik yang tidak punya fisik, yang pernah punya fisik, rukh-rukh marakayangan, para diyu dan para jin, kumpul. Demonstrasi!

“Wahai Sang Dewa Batara Guru, jangan biarkan dua anak manusia ini masuk, karena kalau mereka masuk dunia akan hancur. Kami belum siap memiliki daging dan darah, wahai Dewa Batara”, berkata rukh-rukh yang belum sempat mempunyai fisik.

”Wahai Dewa Agung, jangan biarkan dua anak manusia ini masuk, karena aku masih ingin lahir kembali ke dunia. Walau sempat hidup di dunia, aku tidak bosannya bergumul dengan darah dan daging. Itu adalah kenikmatanku”, kata rukh-rukh marakayangan.

Maka darah-darah pun mengalir, darah yang aromanya bau, hitam dan kelam berkata, ”Wahai sang Dewa, kami adalah tetesan dosa , kami menangis. Walaupun dunia tidak hancur, manusianya kehilangan kerinduan kepada aku. Bukankah wahai sang Dewa, kerinduan seksual adalah menghisap darah, Kerinduan kelamin adalah penyimpanan darah? Bukankah memakan harta yang lain adalah menghisap darah, dan mengkhianati yang lain adalah berenang dalam darah? Kami adalah darah-darah yang masih punya hak bergenang di bumi. Jangan engkau biarkan darah tidak dirindukan lagi oleh penduduk bumi.”

”Wahai Kakanda”, berkata Batara Guru pada Batara Narada, ”Bagaimanakah cara membendung mereka supaya tidak masuk ke kahyangan ini?”

”Wahai Dindaku, Jagad Kahyangan ini akan mengusir mereka yang masih dibatasi oleh rasa lelaki dan rasa wanita. Memang mereka sudah terbebas dari rasa memiliki dan rasa dimiliki oleh siapapun dan oleh apapun. Tetapi mereka dipisahkan oleh rasa ke-dewi-an dari Sukesih dan ke-resi-an dari sang Begawan Wisrawa. Adindaku, cobalah mereka. Benarkah tidak menyimpan lagi batasan-batasan kerinduan untuk berbuat dosa lagi. Turunlah (masuklah) ke salah satu bergiliran”, kata Batara Narada.

Maka masuklah Batara Guru ke diri Dewi Sukesih, masuk ke alam jiwanya terdalam. Batara Guru tidak masuk ke jagad fikiran dan jagad rukhnya, karena jagad fikiran adalah dunia bumi dan jagad rukh, hanya milik Sang Hyang Wenang.

Begitu masuk kepada sentral terdalam jiwa dewi Sukesih, muncullah perasaan tertentu dalam diri Dewi Sukesih. Dipuncak kesucian dari jagad perbatasan Kahyangan, Keagungan dan Kesucian memadu dengan keagungan dari Begawan Wisrawa. Dalam pandangan Dewi Sukesih, betapa gagah, betapa agung, betapa indah akhlak yang dipancarkan oleh sang Begawan. Menimbulkan kekaguman yang sangat dalam pada perasaan sang Dewi sebagai wanita.

Keagungan jagad Nirwana yang suci, memberi sentuhan keagungan dari sikap Begawan Wisrawa. Maka terlihatlah laksana Dewa Batara Kamajaya, simbol kesempurnaan seorang lelaki. Muncullah cinta asmara yang hebat pada sang Begawan, cinta dari anak ke Bapak, punah! Yang ada hanyalah sebagaimana cinta wanita pada pria. Rontaan-rontaan perasaan ini tidak kuat untuk diungkapkan.

”Wahai Begawan, Aku cinta padamu. Betapa engkau mempesona aku, betapa bertambah indahnya alam ini dan betapa bahagianya jiwa ini, sentuhlah kulitku ini, wahai Begawan.” Sang Begawan pun tersentak kaget!

”Dewi Sukesih anakku!….. Aku datang untuk anakku Danareja. Oh, Dewi Sukesih, kenapa pipimu yang merah dan indah itu harus dipoles oleh kembang api neraka? Dan alismu yang hitam, harus dihitamkan oleh abu neraka? Kulitmu yang halus, mengapa harus diperhalus oleh awan-awan nafsu yang kuning? Yang menyorot tubuhmu yang kuning.”

Maka pada saat Begawan Wisrawa bicara demikian, Dewi Sukesih kembali kepada jagad kesuciannya.

”Mohon ampun Begawan….. Mohon ampun raja Dewa. Aku tidak mengerti, kenapa tumbuh perasaan seperti itu. Dan akupun sadar, betapa aku belum pantas untuk masuk ke Nirwana yang Suci”, berkata sang Dewi dengan terbata-bata.

Begitu kesadaran kesucian dari sang Dewi muncul, Batara Guru terpental dari jagad jiwa Dewi Sukesih yang tersembunyi. Ternyata kekuatan yang terpancar dari kesucian bathin, lebih hebat, lebih sakti dari segala macam ilmu dan kesaktian apapun. Bahkan Batara Guru, seorang Dewa, bisa terpental! Dalam keterpentalannya, Batara Guru bicara dari jarak jauh kepada kakandanya, Batara Narada.

”Wahai Kakanda, betapa hebat kekuatan yang ada dalam kesadaran yang tinggi dari jagad bathin Dewi Sukesih. Memang pantaslah dia menjadi bidadari Surgawi. Pantas Dewi Sukesih menjadi raja dari segala Bidadari.”

”Memang benar wahai Dindaku”, kata Batara Narada, ”Dewi Sukesih lebih cantik dari semua Bidadari yang ada di Surga. Karena, bilamana manusia bumi mampu mencapai ketinggian harkat, itu melampaui kecantikan dan keindahan penghuni Surga itu sendiri. Manakala anak manusia mencapai ketinggian harkat yang suci dalam keikhlasan, suci dalam kepasrahan, suci dalam rasa memiliki dan dimiliki. Itu adalah lebih tinggi harkatnya dari harga Nirwana itu sendiri, harga Surga itu sendiri”, Batara Narada menerangkan.

Perasaan cinta sang Begawan sebagai seorang ayah, ternyata telah menyelamatkan dirinya dari belaian maut cinta asmara. Dan ternyata kalau cinta, suami isteri telah membuahkan anak, seharusnya ”menambah” kokoh cinta yang ada. Sehingga apabila saat-saat kritis menghadang, terutama dari hempasan badai asmara dari pihak ketiga, ataupun saat-saat kejenuhan mencengkeram jiwa masing-masing, maka cinta kepada anak adalah kekuatan yang agung, dalam menghadapi semua itu.

Ternyata sang Dewa Batara Guru, dalam harkat kedewaannya, sangat menaruh hormat atas kesucian bathinnya yang dimiliki oleh insan manusia.

”Namun demikian…..lupakah engkau wahai Dindaku, bahwa Dewi Sukesih datang ke tempat ini karena masalah mencari calon suami. Sekalipun sudah sampai ke Sastra Jendra, sampai pada puncak nilai dan kesucian. Tapi berangkatnya dari mencari suami. lkatlah keberangkatan mencari suami dengan kesucian Sastra Jendra maka Dewi Sukesih akan ditarik kembali oleh aibnya, dari kekuatan daya tarik bumi. Dan cobalah sekarang masuk lagi ke Begawan Wisrawa, masuk ke pusat jagad lelanang-nya Begawan, keangkuhan kelelakiannya, jagad kegagahannya. Munculkan tentang ’mandra guna’ kelelakiannya. Laki-laki ’Lelanang ing jagad mandra guna wiwaha’. Sekalipun Dindaku tidak merasa memiliki, tapi engkau mampu membawa ’lelanang jagad’ pada jagad kelelakian Begawan Wisrawa.”

Maka masuklah Batara Guru ke alam bathin Begawan Wisrawa, masuk ke pusat jagad lelanangnya (ego maskulin), keangkuhan kelelakiannya, jagad kegagahannya. Batara Guru terkagum-kagum melihat keikhlasan kelaki-lakian sang Begawan. Ternyata dengan sukarela sang Begawan memperlihatkan kekuatan jiwanya, karena mampu meninggalkan keangkuhan kelelakiannya. Ada suatu keindahan didalamnya, keindahan karena sang Begawan Wisrawa telah meninggalkan dirinya sebagai raja, meninggalkan dirinya yang berkuasa atas rakyatnya. Meninggalkan dirinya yang beristerikan seorang ratu. Dan telah meninggalkan semua unsur manusiawi, terutama naluri seksual.

Betapa Batara guru terpukau, terpesona, betapa indahnya! Kahyangan adalah jagad yang penuh dengan kenikmatan nan mempesona, namun jagad bathin sang Begawan ternyata lebih mempesona, lebih anggun.

Kekaguman Batara Guru diketahui oleh kakandanya, Batara Narada. ”Wahai Dindaku, kenapa engkau terpesona? Di jagad kita memang tidak ada pesona keindahan seperti itu. Jagad itu ada di atas jagad Kahyangan ini. Itu sangat dekat dengan Sang Hyang Wenang, sangat dekat dengan Yang Maha Tunggal, Yang Maha Esa, Tuhan kita semua. Jagad bathin yang ada dalam dada sang Begawan adalah jagad tertinggi dari surga. Jagad Illahi.”

”Wahai Kakanda, bagaimanakah cara aku menggodanya?”

”Engkau begitu terpesona sehingga engkau lupa, wahai Dindaku. Kau lupa bahwa jagad itu adanya dalam daging Begawan Wisrawa. Cobalah munculkan, jagad dagingnya, jagad diyu-nya.” Jawab Batara Narada.

Begitu dimunculkan jagad daging sang Begawan, bergetar syaraf-syarafnya, muncul perasaan aneh dari sang Begawan. Terlihatlah, wajah cantik nan rupawan Dewi Sukesih, bertambah cantik. Betapa keindahan jagad suci kahyangan bertambah indah dengan kehadiran Dewi Sukesih. Pesona Kahyangan pun bertambah mempesona oleh wajah dan keindahan tubuh Dewi Sukesih. Terungkaplah rontaan perasaan yang tak bisa lagi dikendalikan. Yang biasanya ”wahai anakku” tapi kini, ”wahai dindaku”...

Dewi Sukesih tersentak, kaget!

”Wahai Dindaku”, mengapa kita tidak manunggal ? Manunggal dalam jiwa, manunggal dalam perasaan, manunggal dalam bathin. Manunggal dalam jagad fikiran dan jagad raga kita. Supaya engkau meneteskan darah dari rahimmu, supaya dunia bertambah indah oleh darah-darah yang indah. Marilah kita lewati malam pertama dari sebuah perkimpoian, supaya perkimpoian manusia di dunia tambah dirasakan indah. Dan menjadi dambaan tertinggi dari harapan kehidupan dunia.”

”Wahai Begawan, Aku melihat di matamu yang teduh, keluar mega-mega hitam dari nafsu seluruh manusia. Mengapa engkau ambil alih semua nafsu manusia yang ada di bumi? Yang katanya tak boleh dicela, wahai Begawan, walaupun engkau berhasil untuk tidak menghina dunia, namun kau ambil alih noda nafsu seluruh manusia di seluruh jagad bumi. Mengapa engkau isi mega-mega hitam itu dengan birahi? Yang telah engkau mampu padamkan. Dan engkaupun telah membawa obor birahi dari bumi, padahal aku tak melihat engkau mengambilnya dari bumi. Mengapa demikian, wahai Begawan?”

Tersadarlah sang Begawan.

”Wahai Maha Dewa yang ada di Kahyangan, betapa aku masih mensisakan rasa manusiaku, aku tak pantas menjadi penghuni Kahyangan. Izinkanlah aku dan Dewi Sukesih untuk segera kembali ke bumi, supaya kami tidak terjebak oleh sisa manusiawi kami, yang temyata masih kuat, teguh menjadi raja dalam jiwa kami.”

Begitu ada kesadaran yang suci dari sang Begawan, Batara Guruh terpental jauh. Tidak hanya keluar dari jagad bathin sang Begawan, namun terus jatuh di hadapan Batara Narada di Kahyangan. Ternyata ada kekuatan yang dahsyat dari miniatur Surga yang ada dalam jagad bathin sang Begawan.

”Wahai Dindaku, ternyata engkau masih tetap kalah oleh mandragunanya kekuatan manusia bumi”, berkata Batara Narada yang nampak kekagetan di paras mukanya.

”Mengapa demikian Kakanda?”

”Karena Sang Hyang Wenang Hing Murbeng Agung, pencipta kita. Walaupun marah kepada penduduk bumi, namun masih menyimpan kekuatan kekuasaan-Nya, yang tersembunyi dalam nurani manusia. Yang tidak diberikan kepada kita.”

”Kalau demikian Kakanda, Sang Begawan sangat pantas menjadi penghuni Kahyangan ini.”

”Lebih dari pantas”, jawab Batara Narada, ”Lebih dari kita para Dewa, lebih dari para Bidadari. Karena kita menjadi penghuni Nirwana ini adalah Titis Tulis Hyang Widhi, sekalipun menolak kita tetap menjadi penghuni Kahyangan ini. Kalau sang Begawan menjadi penghuni di sini, itu adalah karena perjuangan dari sebuah makhluk. Yang dilahirkan tanpa harkat, namun mampu meraih harkat. Itu adalah bagian pengembangan dari sisi lain Kekuatan Kuasa Illahi.”

”Kalau demikian berarti Sastra Jendra Hayuningrat bukan milik kita”, kata Batara Guru.

”Benar, kita tidak memiliki Sastra Jendra, walaupun Kahyangan ini adalah buah dariSastra Jendra HayuningratSastra Jendra Hayuningrat adalah milik Hyang Widhi, milik Illahi, yang hanya diberikan kepada mereka penduduk bumi yang mampu mengangkat harkat dirinya. Baiklah dinda Batara Guru, sekarang engkau masuklah pada keduanya dalam kebersamaan dengan isterimu, Betari Uma. Bercintalah kalian dengan menggunakan fisik kedua anak manusia itu. Engkau tidak boleh lagi terpesona oleh alam jagad bathin keduanya. Langsung saja kembalikan diyu keduanya. Kita para Dewa punya hak dari Hyang Agung, untuk membangun ’diyu-diyu’ dalam jagad diri manusia.”

Batara Guru pun memanggil isterinya, Betari Uma. ”Wahai kekasihku, kita akan bercinta melalui raga dari kedua orang ini.”

”Wahai Kakanda”, berkata Batari Uma, ”Bukankah kita bercumbu di Surgawi ini tanpa harus bersentuhan fisik? Bukankah keindahan kenikmatan Illahi tanpa harus melewati kelamin? Dan kita tidak lagi memiliki kalamin, kenapa harus memakai kelamin mereka? Bukankah kita akan menodai kesucian yang telah lama kita lakukan.”

Ingatlah tentang kemurkaan Allah swt, saat terjadinya tragedi qolbi, dimana bahwa penciptaan alam raya dan isinya, melalui proses evolusi, diciptakan dari proses pembuatan ”alat kelamin”. Sedangkan jasad Adam dikembalikan sebagai Atma. (Proses terusirnya Adam dari Surga)

”Duhai Dindaku, ini adalah demi kesucian Nirwana. Jangan sampai tersentuh oleh darah dan daging kedua orang ini. Kita usir mereka melalui percintaan kita.”

Maka masuklah Batara Guru dan Betari Uma ke dalam jagad jiwa Begawan Wisrawa, dan Dewi Sukesih. Batara Guru masuk ke alam perasaan lelaki sang Begawan, sedang Betari Uma masuk ke perasaan kewanitaan dari Dewi Sukesih. Begitu masuk ke jagad manusiawi keduanya, maka bergetarlah seluruh syaraf-syaraf inderawi keduanya, memunculkan perasaan aneh yang tak mampu dibendung oleh kedua orang ini.

Reaksi pertama muncul dari alam jiwa, alam pikiran dan alam fisik Begawan Wisrawa. Dirasakan oleh sang Begawan, dirinya seperti masuk ke suatu padang yang panjang. Dirinya sendiri menjadi kuda jantan yang gagah perkasa, berlari-lari dengan congkaknya. Maka energi birahi sang lelaki menimbulkan meregangnya semua syaraf dan pori-pori tubuh. Maka secara fisik dan dalam alam fikiran, alam jiwa, sang Begawan merasa menjadi kuda jantan yang gagah dengan otot-ototnya yang teguh serta urat-urat yang menegang. Resah! Diterpa birahi. Semakin meregang tubuhnya semakin keras pula keresahan yang menerpa. Melejitlah bak anak panah yang tersentak dari busurnya, sang kuda jantan berlari dengan desah nafas memburu dan keringat yang membanjir, mencari kuda betina! Sang kuda pun meringkik dengan kedua kaki depan terangkat ke atas, menendang, melompat-lompat, tak tahan atas desakan birahi yang maha tinggi, melampaui kekuatan keikhlasan dan keimanan jiwanya sendiri.

Kuda jantan semakin tegang, gelisah! Dalam larinya tidak saja tubuhnya yang menegang dengan urat-urat menonjol, otot kelaminnya pun meregang pula bersama dengan larinya kaki dipadang panjang yang terjal dan berliku. Betapa hebat udara birahi yang menerpa sang Begawan, birahi yang tidak pernah dirasakan, sekalipun dalam kehidupan remaja dan akil balikhnya. Sang kuda pun turun, naik, di setiap celah-celah gunung, jurang-jurang yang dilaluinya. Berlari terus bak kuda sembrani yang menjelajahi seluruh padang panjang kegelisahan, dengan satu tujuan, mencari kuda betina!

Maka jagad perasaan manusiawi sang Begawan dirasakan lebih sempurna dari puncak hawa nafsu manusia di bumi. Hal ini adalah disebabkan oleh Batara Guru sedang masuk ke pusat jagad manusiawi sang Begawan dan membangunkan, menggetarkan semua simpul syaraf dan indera sang Begawan. Para Dewa punya hak untuk bangunkan diyu-diyu hawa nafsu yang ada dalam jagad manusia.

Dalam waktu yang bersamaan, Betari Uma pun membangun nuansa-nuansa imajiner sang Dewi. Karena sesungguhnyalah bahwa birahi itu tak lebih dari ilusi/imajinasi belaka. Cuma karena imajinasi itu datangnya dari pikiran dan perasaan kita, maka seolah-olah itu adalah sesuatu yang nyata.

Maka Dewi Sukesih pun seperti wanita telanjang yang sedang mandi di telaga Taman Firdaus, telaga Nirmala. Kemudian tangan sang Dewi pun menyentuh-nyentuh tubuhnya yang telanjang, menimbulkan erotisme yang sangat tinggi. Lentik jemarinya pun menelusuri seluruh lekuk tubuhnya sendiri. Maka seketika kesucian alam Sastra Jendra Hayuningrat, punah! Bahkan sentuhan sibakan air pun mampu menimbulkan erotisme tersendiri. Berenanglah sang Dewi di telaga Nirmala, dipetiknya bunga-bunga yang tumbuh di atas telaga, sang bunga pun disentuh-sentuhkan pada tubuhnya, sehingga menimbulkan erotisme yang maha tinggi, erotisme yang tidak ada di dunia.

Ternyata benda-benda saja sudah mampu menimbulkan erotisme yang sangat tinggi bagi tubuh sang Dewi, tanpa apapun, tanpa kelamin laki-laki, tanpa pria! Dan betapa hebat nafsu dari Dewi Sukesih ini. Sentuhan-sentuhan bunga teratai surgawi menambah rangsangan erotisme sensual sang Dewi. Ikan-ikan yang ada dalam telaga pun menyentuh dengan nakal tubuh telanjang sang Dewi. Juga menimbulkan kenikmatan yang sangat indah dari sebuah rasa sensual sang Dewi.

Maka puncak sensual sang Dewi masih harus menuntut. Dan naiklah sang Dewi dari telaga yang indah, berguling-guling di taman. Sentuhan-sentuhan rumput di taman menimbulkan erotis yang begitu menggelitik. Dari sela-sela taman muncullah ular besar, sang Dewi membiarkan sang ular menghampiri, kemudian menjalar dan menjilati tubuhnya. Lilitan ular mulai dari ujung kaki hingga lehernya, menimbulkan puncak erotisme yang sangat sempurna. Tidak ada dimanapun. Maka sampailah ke puncak jeritan yang begitu mempesona dari sang Dewi. Jeritan itu adalah kesadaran betapa dirinya merindukan fisik lelaki, merindukan sentuhan lelaki, ciuman lelaki dan terutama merindukan kelamin lelaki. Terlontarlah erangan jerit sang Dewi.

Resah jeritan, desah sang Dewi, berubah diri; membentuk kuda betina yang sedang menggosek-gosek, berguling-guling, menggesek-gesek tubuhnya, tersiksa deraan birahi!

Kuda jantan yang memang sedang mencari kuda betina, bertemulah keduanya. Berguling-guling bersama, saling menggigit sambil bersenggama. Pada saat alat kelamin kuda jantan masuk ke alat kelamin kuda betina, sadarlah sang Dewi! Sadarlah Sang Begawan! Namun segala sesuatunya sudah terlambat.

Sempurnalah sudah tetesan dari fisik sang Begawan, puncak ketegangan kelamin yang masuk kedalam rahim sang Dewi mengeluarkan sperma. Hubungan suami isteri sempurna melampaui kenikmatan yang telah dirasakan dari semua itu.

Dalam pada itu menjelang puncak hubungan dari keduanya, dengan cepat Batara Guru dan Betari Uma keluar dari tubuh keduanya, lapor pada Batara Narada.

”Wahai Kakanda, benar! Ternyata mereka masih merindukan dosa-dosa yang tersembunyi. Sekalipun sudah sampai ke jagad alam yang paling suci, melampaui kesucian kita para Dewa. Mereka masih memiliki kelamin yang ada dalam Jagad Sastra Jendra Hayuningrat. Wahai Kakanda, betapa keagungan dan kesucian Sastra Jendra masih harus diperankan oleh kelamin mereka. Mereka dengan kelaminnya harus kembali ke bumi.”

Sesungguhnyalah bahwa pada saat keduanya didera oleh birahi yang maha dahsyat, semakin tinggi birahi dirasakan oleh keduanya, maka semakin turunlah mereka dari Kahyangan. Desah erang kejantanan sang Begawan dan jeritan kewanitaan sang Dewi dipuncak hubungan kelamin sempurna, keduanya sudah berada di Taman Arga Soka. Taman yang memang dipersiapkan bagi keduanya oleh Prabu Sumali, ayahanda Dewi Sukesih.

Begitu sadar, maka keduanya dalam keadaan tanpa busana. Reaksi pertama dari keduanya adalah dengan cepat mengambil busana masing-masing yang ternyata tergeletak di sebelah mereka, dan segera menutupi tubuh masing-masing. 

Keduanya pun dilanda, dicekam oleh rasa malu yang sangat! Setelah keduanya selesai mengenakan busana masing-masing, nampaklah bahwa busana sang Dewi, busana indah puteri seorang raja yang serba putih, penuh noda darah keperawanan sang Dewi. Gugurlah Bunga Menur seorang gadis yang suci.

Berkata sang Begawan pada Dewi Sukesih, ”Wahai Dindaku, kita telah terikat sebagai suami isteri dan kita tidak perlu menikah kembali atas persetujuan orang tuamu. Kita tidak perlu akad nikah yang diresmikan oleh rakyat, oleh umat. Dan kitapun malu minta kepada sang Dewa untuk diresmikan dan disyahkan. Kita dinikahkan oleh syahwat kita. Bukan dinikahkan oleh alam ini, bukan dinikahkan oleh orang-tua kita, dan bukan pula dinikahkan oleh Sang Hyang Wenang, Tuhan yang Maha Esa.”

Dewi Sukesih menangis dengan segala penyesalan, dan air mata pun berderai tak henti-hentinya. Sementara sang Begawan tak berkata-kata, tak ada kalimat yang menyatakan tentang mohon pengampunan dosa. Tiada kata-kata yang menyatakan tentang rasa kebersalahan atau penyesalan dari sang Begawan.

”Wahai Dindaku”, kata sang Begawan, dengan nada getir yang kering, ”Engkau masih untung, kesakitan jiwamu dan rasa bersalahmu masih bisa diwakili oleh derai air matamu. Tapi aku tak mampu lagi yang bisa mewakili rasa sakit dari rasa bersalah ini.”

Ternyata walaupun tak ada kata atau kalimat yang menyatakan perasaannya ataupun derai air mata dari sang Begawan, ternyata sang Begawan lebih tinggi rasa penyesalannya. Karena dia adalah pendeta, wali Allah, seorang ulama yang sangat kasyaf, seorang resi, seorang pastur yang sangat suci.

Rasa penyesalan tak lagi mampu dapat diwakili oleh perangkat apapun, sekalipun dalam bentuk tangisan. Maka berkatalah sang Begawan, ”Dindaku, menangislah sepuasmu sekalipun tidak akan mensucikan noda-noda kita. Darah yang ada dalam busanamu menyebabkan semua anak manusia yang akan datang ke dunia ini harus tercekam, terpenjara kerinduan malam pertama pengantin. Biarlah, kita korban dari keserakahan nafsu kita sendiri. Biarkanlah kita menjadi korban dari syahwat yang lebih besar dari raksasa apapun. Biarkanlah kita menjadi tumbal, menanggung dosa semuanya yang akan lahir ke dunia ini”, sang Begawan tercenung sejenak, kemudian katanya :

”Wahai Dindaku, sperma yang keluar dari kelaminku telah menetes dalam jagad kewanitaanmu. Biarlah sperma itu menjadi makhluk baru dalam rahimmu, menjadi makhluk baru yang penuh kemerdekaan. Apapun sang janin jadinya. Kita serahkan kepada hawa nafsu yang telah kita ukir bersama. Biarlah sang nafsu yang telah kita ukir bersama akan membangunkan janin bayi yang ada didalam perutmu. Wahai Dindaku, kita harus siap mencintai, merawat dan mendidik bayi-bayi yang akan lahir. Anakmu adalah anakku, anakmu seharusnya cucuku, tapi anakmu adalah anakku. Apapun sifat dari bayi ini, kita tak boleh mengurangi cinta kita pada mereka, kita didik dengan segala pengorbanan tanpa harus menuntut. Sekalipun kita didik sebaik mungkin, karena lahir dari dosa kita, kitapun tak mampu untuk menjadikan mereka anak baik yang mendapat ridho dari sang Dewa. Biarkanlah berkembang dengan sifat keangkaraannya, dengan penuh kesalahannya. Biarkanlah anak kita berkembang dengan keinginannya, asal kita mensisakan kasih sayang yang ikhlas untuk mereka. Dengan segala perlindungan dan pendidikan. Dan baik tidaknya anak ini bukan tugas kita lagi. Itu adalah tergantung kearifan dari Sang Hyang Widhi yang menciptakan kita. Kitapun tak mampu berdoa untuk mohon itu, karena doa itupun sudah mengutuk kita dari dalam perbuatan syahwat yang akan mengukir sampai akhir dunia.”

SURA DIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI


Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti memiliki arti adalah setiap kebencian, kemarahan, keras hati akan luluh oleh kelembutan, bijaksana, dan sabar. 

"Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti" adalah bagian dari salah satu bait "Sekar Kinanthi" dalam "Serat Witaradya" buah karya R Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) pujangga besar Kasunanan Surakarta, yang mengisahkan R Citrasoma, putra Sang Prabu Aji Pamasa di negara Witaradya.


Selengkapnya "Sekar Kinanthi" tersebut adalah sebagai berikut:
Jagra angkara winangun
Sudira marjayeng westhi
Puwara kasuh kawasa
Sastraning jro Wedha muni
Sura dira jayaningrat
Lebur dening pangastuti

Terjamahan kata per kata merujuk Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 sebagai berikut:

Jagra: Bangun; Angkara: Angkara;
Winangun: Diwujudkan (Wangun: Wujud);
Sudira: Amat berani;
Marjayeng: Jaya ing, menang dalam ... ;
Westhi: Marabahaya;
Puwara: Akhirnya;
Kasuh: Tidak tahan;
Kawasa: Kuasa;
Sastra: Jro: Jero, Di dalam;
Tulisan, surat-surat, buku-buku;
Wedha: Ilmu pengetahuan, Kitab-kitab ilmu;
Muni: berbicara;
Sura: Berani;
Dira: Jaya: Ningrat: Bangsawan, tetapi Ning: Di;
Rat: Jagad Lebur: Hancur; Dening: Oleh;
Pangastuti: pamuji, pangalem, pangabekti, panembah.

Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:
Bait ke 1 sd 3 menunjukkan orang yang karena keberanian dan kesaktiannya ia tidak pernah terkalahkan, akhirnya tidak kuat memegang kekuasaan dan tumbuh sifat angkara.
Sedangkan bait ke 4 sd 6 menjelaskan bahwa menurut kitab-kitab ilmu pengetahuan, sifat angkara tersebut dapat dikalahkan dengan kelembutan.

Di bawah adalah kisah pendukung "Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti" yang dapat dibaca dalam "Serat Witaradya" tentang kesetiaan seorang isteri yang dapat mencegah niat buruk lelaki lain dengan "pangastuti"

Alkisah sang putra mahkota jatuh cinta kepada istri Tumenggung Suralathi yang bernama Nyai Pamekas, seorang wanita yang sepantaran dengan dirinya. Wanita yang tidak hanya cantik lahiriyah tetapi juga suci hatinya. Begitu gandrungnya sang pangeran, sampai pada suatu saat Ki Tumenggung sedang dinas luar, beliau mendatangi Nyai Pamekas yang kebetulan sedang sendirian, untuk menyatakan maksud hatinya yang mabuk kepayang

Dengan tutur kata lembut dan "ulat sumeh" Nyai Pamekas berupaya menyadarkan R Citrasoma dari niat tidak baiknya, karena jelas menyeleweng dari sifat seorang ksatria dan melanggar norma-norma kesusilaan, tetapi sang Pangeran tetap ngotot. Nyai Pamekas mencoba ulur waktu, dengan mengingatkan bahwa ada banyak orang disitu yang berpeluang melihat perbuatan R Citrasoma, kecuali di"sirep" (dibuat tidur dengan ilmu sirep)

Bagi seorang yang sakti mandraguna seperti R Citrasoma, tentu saja me"nyirep" orang bukan hal besar. Ketika semua orang tertidur, kembali Nyai Pamekas mengingatkan bahwa masih ada dua orang yang belum tidur yaitu Nyai Pamekas dan R Citrasoma sendiri. Lebih dari pada itu, masih ada satu lagi yang tidak pernah tidur dan melihat perbuatan R Citrasoma, yaitu Allah yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

R Citrasoma terhenyak dan sadar. Minta maaf kemudian kembali ke kediamannya. Nyai Pamekas berhasil mengatasi nafsu angkara tidak dengan kekerasan. Mungkin juga kalau keras dilawan keras justru akan terjadi hal yang tidak baik. Kelembutan dan kesabaran ternyata berhasil meluluhkan kekerasan.

Satu contoh lagi pada saat menjelang akhir perang Bharatayuda Yudistira harus melawan Prabu Salya yang memiliki aji-aji Candra Birawa. Berupa raksasa yang kalau dibunuh akan hidup lagi bahkan jumlahnya menjadi berlipat ganda. Bima dan Harjuna dibuat kewalahan dengan raksasa Candra Birawa ini. Setiap dipukul dengan gada oleh Bima, atau dipanah oleh Harjuna, jumlahnya malah makin berlipatganda.

Akhirnya Candra Birawa berhadapan dengan Yudistira, Raja yang dikenal berdarah putih. Tidak pernah marah apalagi berperang. Raksasa-raksasa Candra Birawa tidak dilawan. Bahkan didiamkan saja. Tetapi raksasa dapat dikalahkan dan kembali kepada tuannya.

Itulah "Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti". Sebuah ajaran yang patut kita renungkan pada abad ke 21 ini.

GUGURNYA SANG KSATRIA

Arjuna, tatalah rasa hatimu! 
Hari ini sudah sampai waktumu harus meladeni tanding dengan kakakmu, Adipati Karna. 

Kanda, bagaimanakah hamba dapat melayani tanding yuda dengan kanda Adipati Karna. Suasana beginilah yang selalu mengingatkanku akan Ibu Kunti keluh Arjuna.

Kresna telah tahu apa yang melatar belakangi maksud dari keberpihakan Karna terhadap Kurawa. Hal itu telah ia dengar sendiri tatkala ia bertemu dengannya empat mata, ketika ia telah usai menjadi duta terakhir sebelum pecah perang. Semuanya bagi Kresna sudah tidak ada hal yang meragukan. Namun ia tidak mengatakan apapun tentang itu terhadap Arjuna.

Adikku, hari ini pejamkan matamu, tutuplah telingamu. Kamu hanya wajib mengingat satu hal, darma seorang satria yang harus mengenyahkan kemurkaan. Walaupun saudaramu itu adalah salah satu saudara tuamu, tetapi ia tetaplah ada pada golongan musuh. Dan ketahuilah, bahwa majunya kakakmu Adipati Karna itu, tidak seorangpun yang ditunggu, kecuali dirimu. Dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang diwajibkan untuk mengantarkan kematiannya, kecuali dirimu.

Mari aku dandani kamu sebagaimana layaknya seorang senapati, dan akulah yang akan menjadi kusirmu. Selesai berdandan busana keprajuritan, segera mereka menaiki kereta Prabu Kresna, kereta Jaladara. Kereta perang dengan empat ekor kuda yang berasal dari empat benua yang berwarna berbeda setiap ekornya, merupakan hadiah Para Dewa. Bila dibandingkan dengan kereta Jatisura milik Adipati Karna yang telah remuk dilanda tubuh Gatutkaca, kesaktian kereta Jaladara bisa berkali kali lipat kekuatannya.

Suasana berkembang makin hening, diangkasa telah turun para dewata dengan segenap para durandara dan para bidadari. Mereka hendak menyaksikan peristiwa besar yang terjadi dipadang Kuru. Sebaran bunga bunga mewangi turun satu satu bagai kupu kupu yang beterbangan.

Karna yang melihat kedatangan Arjuna berhasrat untuk turun dari keretanya. Kresna yang melihat keraguan memancar dari wajah Arjuna mengisyaratkan untuk menyambut kedatangannya. Berkata ia kepada Arjuna : Lihat! Kakakmu Adipati Karna sudah turun dari kereta perangnya, segera sambut dan ciumlah kakinya.

Arjuna segera turun berjalan mendapatkan kakak tertua tunggal wadah dengannya. Baktiku kanda Adipati, Arjuna duduk bersimpuh dihadapan Adipati Karna setelah menghaturkan sembahnya.

Arjuna, seumpama aku seorang anak kecil, pastilah aku sudah menangis meraung-raung. Tetapi beginilah orang yang menjalani kewajiban. Aku bela diriku membutakan mata menutup rasa hati untuk mencapai kamukten. Sekarang aku sudah mendapatkannya dari Dinda Prabu Duryudana. Dan sekarang aku harus berhadapan dan tega berkelahi sesama saudara sekandung! Karna menumpahkan isi hatinya.

Kanda Adipati, hamba disini memakai busana senapati bukan untuk menandingi paduka kanda Prabu. Tetapi membawa pesan dari ibu kita, Kunti, untuk kembali berkumpul bersama saudara paduka Para Pandawa. Air mawar bening pembasuh kaki sudah disiapkan oleh adik adik paduka, Kanda Adipati. Arjuna mencoba meluluhkan hati kakak tunggal ibu itu.

Kembali Adipati Karna menegaskan apa yang terrasa didalam hatinya.

Lihat, air mataku jatuh berlinangan. Tetapi aku katakan, tidak tepat apa yang kamu katakan. Sudah berulang kali kamu memintaku untuk berkumpul bersama sama dengan saudaraku Pandawa. Begitu juga dengan Kanda Prabu Kresna, yang ketika itu datang kepadaku dan bicara empat mata. Sekarang sama halnya dengan dirimu, yang juga kembali mengajakku untuk berkumpul bersama. Bila aku menuruti permintaanmu, hidupku akan seperti halnya burung yang ada dalam sangkar emas. Tetapi hidupku tidak bisa bebas. Hidupku hanya kamu beri makan dan minum belaka. Apakah kamu senang bila mempunyai saudara dengan keadaan seperti yang aku katakan?
.
Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Sesaat kemudian Karna melanjutkan.Tak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengantarkan aku menuju alam kematianku, kecuali hanyalah dirimu, dinda Arjuna! Dan bila aku nanti mati dalam perang tanding itu, sampaikan baktiku pada ibunda Kunti, yang tak sekalipun aku memberi ketentraman batin dalam hidupnya .

Serak terpatah patah suara Adipati Karna ketika ia melanjutkan curahan isi hati terhadap Arjuna. Kembali susana menjadi hening. Akan tetapi tiba tiba ia berkata dengan nada tegas.

Hari ini adalah hari yang baik. Ayolah kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih perwira, lebih bertenaga, lebih sakti!

Kanda, berikan kepadaku seribu maaf atas kelancangan hamba berani dengan saudara yang lebih tua. Kembali Arjuna menghaturkan sembah, berkata ia, yang kemudian mengundurkan diri kembali menaiki kereta Jaladara.

Maka perang tanding dengan andalan ketepatan menggunakan anak panah berlangsung dengan seru. Keduanya sesama putra Kunti tidak sedikitpun berbeda ujudnya dalam busana keprajuritan. Keduanya menggunakan topong yang sama, sehingga banyak prajurit yang sedari tadi berhenti menonton sulit untuk membedakan yang mana Arjuna dan manakah yang Karna, kecuali pada kereta yang dinaikinya.

Pada suatu ketika topong kepala Adipati Karna terpental terkena panah Arjuna. Sejenak Karna meminta Prabu Salya untuk berhenti, dan berkata.
Rama prabu, hampir saja hamba menanggung malu. Topong kepala hamba terpental oleh panah adi Arjuna. Sudah aku katakan, tak hendak aku ikut campur dalam peristiwa ini. Aku hanya kusirmu. Tapi kali ini mari aku benahi rambutmu biar aku gelung. Setengah hati Prabu Salya mendandani kembali putra menantunya.

Kembali adu ketangkasan olah warastra berlangsung. Kali ini Kunta Wijayandanu ada ditangan Karna. Waspada Prabu Salya dengan melihat senjata kedua setelah Kunta Druwasa yang telah sirna digunakan oleh Adipati Karna ketika berhadapan dengan Gatutkaca. Maka pada saat menantunya itu melepas anak panah, kendali kereta ditarik, kemudian kuda melonjak. Panah yang sejatinya akan tepat mengenai sasaran, hanya mengenai topong kepala Arjuna dan mencabik segenggam rambutnya.

Aduh Kanda Prabu, topong hamba jatuh terkena panah kanda Adipati. Apakah ini sebagai perlambang kekalahan yang akan menimpa hamba? Arjuna menanyakan.

Bukan ! Itu peristiwa biasa. Biarlah aku tambal rambutmu dengan rambutku. Sekarang aku akan menggelung rambutmu kembali, Jawab Kresna, yang kemudian menerapkan kembali gelung rambut baru pada kepala Arjuna.

Kembali kedua putra Kunti berdandan dengan cara yang sama. Semakin bingung para yang melihat pertempuran dua satria yang hampir kembar itu. Bahkan para dewata dan segenap bidadari dan durandara, melihatnya dengan terkagum.

Adu kesaktian telah berlangsung lama, segala macam kagunan dan ilmu pengabaran telah dikeluarkan. Saling mengimbangi dan saling memunahkan kawijayan antara kesaktian mereka berdua. Namun Arjuna masih memegang satu senjata yang belum digunakan. Itulah panah Kyai Pasupati, yang bertajam dengan bentuk bulan sabit.

Arjuna ! Kresna memberikan isyarat, Sekaranglah saatnya!. Hanya sampai disini hidup kakakmu Adipati. Segera lepaskan senjatamu Pasupati untuk mengantarkan kakakmu ke alam kelanggengan!.

Panah Pasupati telah tersandang pada busur gading Kyai Gandewa, lepas anak panah berdesing bagai tak terlihat. Walau Arjuna melepaskannya sambil memejamkan mata karena tak tega dan rasa bersalah, namun panah dengan bagian tajam yang menyerupai bulan sabit itu mengenai leher Adipati Karna. Tajamnya Kyai Pasupati tiada tara, sampai-sampai, kepala Adipati Karna dengan senyum yang masih tersungging dibibirnya tak bergeser sedikitpun dari lehernya.

Jatuh terduduk jasad Adipati Karna bersandarkan kursi kereta. Geragapan Prabu Salya yang merasa khawatir dan setengah bersalah. Turun dari kereta ia, kemudian menghilang dari pabaratan, kembali ke Bulupitu.

Kidung layu layu kembali mengalun di Padang Kuru, awan mendung yang menandai pergantian musim telah menitikkan airnya walau hanya rintik rintik.

Meski begitu, rintik hujan itu sudah cukup menandai kesedihan yang melingkupi Para Pandawa.

Bagaimanapun Karna-Suryatmaja adalah saudara sekandung, walau ia terlahir bukan atas keinginan sang ibu.

Meski demikian, ia adalah sosok yang sudah memberi warna kepada orang orang disekitarnya dan para saudara mudanya.

Ia adalah sosok yang tegar dan teguh dalam memegang prisip kesetiaan kepada Negara yang telah memberinya kemuliaan hidup. Tetapi sekaligus ia tokoh yang kontroversial, sebab ia adalah tokoh yang secara tersamar menegakkan prinsip, bahwa keangkaramurkaan harus tumpas oleh laku kebajikan.

Ia telah menyetujui bahwa perang Baratayuda harus terjadi, sebab dengan demikian ia telah mempercepat tumpasnya laku angkara yang disandang oleh Prabu Duryudana. Raja yang telah memberinya kemukten.

16.09.13

Senin, 16 September 2013

CINTA TRAPESIUM ALA BANOWATI

Lelaki itu bernama Aswatama. Ia anak Pandita Drona. Ia punya rindu-dendam terhadap perempuan. Mengapa?

Syahdan, Prabu Salya raja Mandaraka mempunyai tiga orang putri. Semuanya rupawan. Ialah Erawati, Surthikanti dan Banowati. Yang paling cantik sekaligus binal namanya Banowati. Disamping cantik dan binal ia molek. Banyak lelaki melambungkan khayalan padanya. Hukum dunia telah digariskan, wanita cantik berjodoh dengan lelaki rupawan. Yang binal dapat yang jalang. Banowati juga tahu hukum dunia itu. Karenanya ia berani jatuh hati pada Arjuna, sang penengah Pandawa, lelananging jagad – pejantan dunia, lelaki paling jalang diantara yang jalang. Gayung bersambut. Playboy dunia wayang itu tidak menampik Banowati. Maka terjadilah percintaan yang membirahi.

Di tempat lain Prabu Drupada raja Panchala terluka hatinya karena ulah Pandita Drona. Drupada lantas melakukan ritual Putrakama Yadnya, ritual memohon anak, dengan tujuan anak tersebut kelak sebagai sarana untuk membunuh Drona. Lahirlah dua orang, yang lelaki diberi nama Drestajumna, yang perempuan Dropadi. Malang nian anak-anak ini, mereka dimohonkan lahir kedunia dengan ungkapan dendam.
“Wahai Drestajumna pergilah ke penjuru bumi. Timbalah ilmu dari guru-guru sakti karena kelak takdir menuntutmu untuk membunuh Drona, guru yang sombong dan tidak adil itu.”

Drestajumna menuruti ayahandanya. Ia harus kukuh sebagai mesin pembunuh. Berat rasanya menjadi calon pembunuh secara sadar sejak awal. Kenapa pula harus Drona. Guru para Pandawa sekaligus Kurawa. Tetapi ia harus patuh pada ayahnya. Ia pergi. Mempersiapkan pembunuhan yang menentukan itu.

Sebagai ayah, Drona begitu sayang pada Aswatama. Seisi dunia akan ditampiknya jika harus diganti dengan Aswatama, kebanggaannya. Drona bersumpah akan rela menyusul mati jika Aswatama mati. Sumpah itu – seperti biasa – dicatat oleh dewa, dan, seperti biasa akan dibocorkan kelak pada saatnya.

Drona memang seorang guru yang mumpuni. Tetapi ia tidak adil. Kepada Aswatama ia memberi pelajaran lebih, melebihi apa yang ia berikan kepada Pandawa dan Kurawa. Lambat namun pasti Aswatama telah menjelma menjadi paling tangkas dan sakti. Tetapi Aswatama tahu diri, ia bukan kasta ksatria, ia lebih baik tidak menonjolkan diri. Biarlah para ksatria dunia yang menonjol, ia cukup dibelakang layar saja. Toh ia bisa mengambil peran lain.

Sesungguhnya Aswatama tak luput dari pesona Banowati. Ia tergila-gila. Tetapi ia selalu diajari untuk tampil dibelakang layar. Mental seperti inilah yang menjadikan Aswatama tidak berani menyatakan cinta pada Banowati. Aswatama tahu diri, ia bukan ksatria. Aswatama menanggung pilu saat Banowati semakin dekat dengan Arjuna. Aswatama dendam, tetapi tidak berdaya. Nyatalah sudah bahwa di jaman kuno, kasta adalah segalanya.

Malam telah gelap memekat bersenggama dengan bau wangi dupa yang menaburi dingin. Suasana yang sempurna bagi insan yang menyimpan rahasia. Tetapi tidak bagi mata Aswatama. Ia bisa memahami dan memastikan, di sudut sana, pujaan hatinya tengah berdua dengan Arjuna. Saat-saat yang selalu dilanjutkan dengan percumbuan dan persetubuhan. Asawatama terluka, tetapi tidak berdaya. Oh Banowati, mengapa kau begitu hina. Tetapi…tetapi…aku cinta.

Pertentangan Pandawa dan Kurawa semakin hebat. Kedua kubu semakin aktif membangun aliansi. Pada pertemuan di Balairung Hastina, Sangkuni memberi petuah pada Doryudana.

“Wahai raja Astina memang sudah menjadi kehendak dewata jika perang bakal meletus. Perang tentu akan dimenangkan oleh pihak yang lebih kuat dan lebih banyak mendapat dukungan dari negara sahabat.

Hendaknya sang prabu membangun persekutuan dengan cara apapun. Ada satu kerajaan yang harus segera paduka dekati karena disamping mereka kuat juga telah condong hatinya kepada Pandawa, ialah negeri Mandaraka yang dipimpin Prabu Salya.”

“Bagaimana mungkin kita bisa merebut hati Prabu Salya, sedangkan mereka bertetangga dengan Pandawa sejak jaman kuno, wahai patihku. Bukankah Salya itu juga ipar Pandu, ayah Pandawa.
Sangkuni terkekeh. Dari mulutnya yang bau kemenyan meluncurlah saran yang jitu.

“Paduka jangan berkecil hati. Prabu Salya punya tiga orang putri. Pinanglah salah satunya. Perkawinan paduka akan menyatukan dua kerajaan.” Doryudana terkesima.

Tetapi memang Balairung itu terlalu terbuka. Banyak kuping yang mendengar. Dalam tempo tidak seberapa lama setelah pertemuan itu muncul kabar, Erawati diculik oleh Baladewa untuk diperistri, sedangkan Surthikanti dilarikan Karna untuk maksud yang sama. Salya yang sombong keberatan jika Erawati diperistri oleh Baladewa, keberatan mana baru mencair setelah Salya tahu bahwa Baladewa juga raja di Mandura.
Sedangkan Surthikanti diikhlaskan menjadi milik Karna sebagai jaminan kesetiaan agar bersedia membela Kurawa saat bharatayuda.

Tinggal satu yang tersisa : Banowati. Tetapi Doryudana ragu, bukankah ia telah berpacaran dengan Arjuna, musuh besarnya. Tetapi ini politik. Keraguan harus disimpan dilaci kusam.

Pinangan segera dilakukan. Salya akhirnya menerima pinangan itu karena Doryudana memberikan seserahan harta yang berlimpah. Tetapi Banowati menolak dengan cara sangat halus. Banowati menetapkan syarat yang pastinya akan ditolak oleh Doryudana. Apakah itu?

“Rama Prabu, saya akan menerima pinangan Doryudana tetapi dengan satu syarat yaitu kelak menjelang perkawinan, saya minta dalam ritual siraman dimandikan diruang tertutup.” Mendengar penuturan putrinya Salya tersenyum. Itu hal yang mudah.

“Yang memandikan adalah Arjuna.” Salya terdiam.

Itu mustahil.

Mendengar syarat itu Doryudana begitu terpukul. Harga dirinya tersinggung dahsyat. Bagaimana mungkin calon pengantinnya mandi siraman dengan Arjuna. Tetapi Patih Sangkuni segera menengahi.

“Paduka, sebaiknya syarat itu diterima saja. Kemenangan di Kurusetra jauh lebih penting dari pada persyaratan yang remeh-temeh itu. Ingatlah bahwa Paduka adalah seorang raja yang bertugas melindungi seluruh Hastina. Para Nabi dan bijak bestari pun sejak dahulu hingga kedepan senantiasa melangsungkan perkawinan politik, demi negara, ingat itu sang Prabu.”

“Tetapi bukan dengan cara seperti ini paman patih.”

“Coba Sang Prabu pikir kembali, Mandaraka punya seratus ribu prajurit. Jumlah sebanyak itu akan jatuh ketangan Pandawa manakala Banowati diperistri Arjuna. Sang Prabu harus bertindak cepat, jangan sampai Banowati terlepas seperti halnya Erawati dan Surthikanti. Toh nanti sang Prabu bisa mengambil istri lagi.” Kalimat terakhir ini diucapkan Sangkuni dengan mata berkedip-kedip.

Doryudana yang lemah itu akhirnya menuruti kata Sangkuni. Godaan kekuasaan menutupi kehormatan. Pernikahan tanpa cinta dari kedua belah pihak akhirnya dilangsungkan juga. Sejak itu, Aswatama semakin tenggelam dalam perasaannya sendiri yang tidak jelas. Sebagai pelampiasan Aswatama giat berlatih olah keprajuritan. Ia merasa akan mengambil peran menentukan dalam bharatayuda. Ia semakin tak tertandingi.

Banowati walau telah menjadi istri Doryudana tetap membuka hati, baju dan kutangnya untuk Arjuna. Ini dilakukan tidak sekali, tetapi berkali-kali, saat Doryudana bertugas menghimpun koalisi atau berburu di hutan. Dan Aswatamalah yang paling tahu tentang rahasia itu.

Rasa cintanya belumlah pupus, karenanya ia selalu mengamati sang dewi, termasuk kala Arjuna menyelinap ke taman sari. Aswatama tahu, cemburu, dendam, tetapi tidak mampu. Wahai dewata, apa yang harus aku perbuat dengan kenyataan ini. Aswatama pernah melaporkan ihwal perselingkuhan itu kepada sidang kerajaan, tetapi dimentahkan oleh Salya, dikatakan bahwa Aswatama hanya cemburu dan berhalusinasi.

Sampailah saat yang mengguncang marcapada. Banowati melahirkan bayi laki-laki. Kebetulan saat itu Doryudana dan keluarga Kurawa sedang di luar kerajaan sehingga tidak melihat langsung rupa bayi yang baru dilahirkan, ia begitu mirip dengan Arjuna. Dengan cepat Banowati mengirim pesan ke Arjuna, bahwa aib dan hukuman akan menimpanya karena rupa bayi itu.

Lelananging jagad itu berdoa agar diberi perlindungan. Alhasil bayi itu berubah wajah menjadi figur yang sedemikian berbeda. Bayi itu diberi nama Lesmana Mandrakumara. Sekali lagi – dalam pewayangan – saya menyaksikan dewa-dewa tanpa malu senantiasa menutupi aib para jagoannya.

Karena doa Arjuna pula bayi itu tumbuh menjadi pemuda yang idiot. Kelak dalam perang bharatayuda Lesmana Mandrakumara mati dibunuh oleh Abimanyu – putra Arjuna dengan Sumbadra.

=======================

Akhirnya Bharatayuda memasuki hari keempat belas. Kurawa menampilkan senopati tangguh, Drona. Kubu Pandawa mengalami kerusakan hebat. Siapa yang bisa menandingi kesaktian Drona?

Hanya Kresna – titisan wisnu – yang sanggup membendung Drona. Tetapi Kresna sudah berjanji tidak akan turun langsung dalam kancah peperangan. Kresna diam, seperti biasa ia memohon agar dibuka rahasia langit.

“Kabarkan pada Drona bahwa Aswatama telah mati. Berbohonglah karena ini siasat perang.”

“Aswatama mati! Aswatama mati!.” Kurusetra gempar, Drona terguncang. Drona melolong bagai anjing mencium arwah.

“Wahai manusia benarkah Aswatama anakku sudah mati?” Teriakan itu begitu nyaring. “Dimanakah dikau wahai Aswatama putra terkasihku?”

Tidak ada jawaban. Berulang-ulang tetap tidak ada jawaban.

Akhirnya Drona terpaksa menemui Pandawa, pribadi-pribadi yang dikenalnya jujur. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa semua mengatakan Aswatama telah mati sesuai pesan Kresna. Drona melolong perih. Ia lebih baik mati saja menyusul Aswatama sesuai sumpahnya. Tetapi Drona tidak lantas percaya sebelum menyaksikan sendiri jasad putranya.

“Dimana Yudistira?
Aku harus menanyakan padanya karena ia paling jujur di muka bumi.”

Yudistira sengaja bersembunyi menghindari pertanyaan Drona. Walau ini strategi perang ia tetap tidak mau berbohong. Apapun yang terjadi ia harus jujur. Itu sudah darmanya. Kresna memahami, cepat atau lambat Drona akan menemukan Yudistira dan akan terbongkarlah rahasia itu, bahwa Aswatama memang belum mati. Ditemuinya Yudistira.

“Wahai putra Pandu, katakan pada Drona bahwa Aswatama telah mati.”

“Tidak kakang,
bagaimana dunia menilaiku kelak jika aku harus berbohong.”

Kresna memahami bahwa Yudistira bukan pribadi yang bisa ditawar. Dengan perhitungan yang luar biasa Kresna membawa seekor gajah yang langsung dibawa kehadapan Yudistira.

“Ketahuilah gajah ini aku beri nama Aswatama.”

Lalu gajah itu dibunuhnya.

“Lihatlah Gajah Aswatama telah mati. Jika kau ditanya Drona, ceritakan bahwa Gajah Aswatama telah mati. Namun pada saat dinda mengucapkan kata “Gajah” hendaknya dipelankan sehingga kuping tua Drona hanya mendengar Aswatama telah mati.”

Sejurus kemudian Drona datang.

“Wahai Yudistira, benarkah Aswatama telah mati?”

“Benar, (Gajah) Aswatama telah mati.”
Pengucapan gajah begitu pelan sehingga Drona yakin bahwa Yudistira, sang manusia jujur, telah menjadi saksi kematian Aswatama.

Drona menjerit. Ia tidak lagi menghiraukan statusnya sebagai senopati, ia berlari sambil berteriak seperti orang gila. Kresna menyimpulkan inilah saat yang tepat untuk membunuh Drona. Saat kewaspadaan telah menguap dari raganya. Saat Aswatama sejati belum muncul di medan perang. Tetapi siapa yang sanggup membunuhnya? Drona tetap berbahaya. Tidak ada yang berani menyongsong tubuh yang terus melolong itu dari arah depan.

“Panggil Drestajumna”, titah Kresna pasti.

Di langit tinggi puluhan gagak melayang kesana-kemari. Suaranya yang buruk membuat gigil pendengarnya. Drestajumna, mesin pembunuh itu, telah menunggu peran dan takdirnya. Sebagai mesin pembunuh ia merasa tidak terikat darma dan hukum perang. Tanpa perasaan Drona yang tengah kalang kabut ditebasnya dari belakang. Perlahan tubuh itu tumbang. Semua terdiam.

Kurusetra terkesima. Babak baru akan terjadi.
Dengan cepat senja sore mengundurkan diri berganti malam layu yang sendu. Yudistira menunduk pilu. Di langit tinggi para dewa pura-pura tidak tahu.

Kehilangan benteng terbaiknya Kurawa akhirnya kalah.

**********

Cinta berbirahi memang tidak mengenal malu.

Begitu perang usai, Banowati – permaisuri Doryudana – menyeberang ke kubu Pandawa dan diperistri oleh Arjuna. Aswatama yang luput dari maut karena bukan termasuk figur yang diincar menyimpan dendam kesumat pada Pandawa yang telah membunuh ayahnya secara licik.

Ia merencanakan balas dendam dengan cara membunuh bayi Parikesit, cucu Arjuna. Dengan terbunuhnya Parikesit dipastikan klan Bharata akan punah dan menjadikan kemenangan Pandawa tidak berarti lagi.

Bersama Kartamarma, sahabatnya, ia menggali lubang di tanah, meniru landak, menembus benteng Pandawa. Saat Aswatama muncul ditengah Benteng alangkah terkejutnya ia tatkala matanya bersirobok dengan tubuh cantik yang dikenalnya, Banowati. Karena hendak menjerit disongsongnya tubuh Banowati dengan keris.

Wanita pujaannya itu meregang nyawa dalam pelukannya. Aswatama menyadari betul ia masih mencintai wanita itu. Ia peluk erat tubuh yang nyaris kehilangan denyut itu. Ini pelukan yang pertama sekaligus terakhir. Pelukan kematian, pelukan yang susah untuk ditafsirkan. “Banowati, mengapa harus seperti ini?”

Terjadi kegaduhan di dalam benteng, rupanya Kartamarma telah ketahuan pihak musuh. Aswatama segera berkelebat cepat. Dalam sedih dan guncang ia tetaplah anak Drona.

Akhirnya Aswatama menemukan kamar Parikesit. Tanpa pikir panjang ia serbu bayi itu dengan hujaman keris. Kurang beberapa langkah, bayi yang terkejut itu menyepak senjata pasopati yang dipersiapkan di kakinya, meluncur deras menghantam dada Aswatama. Dalam regangan nyawa Aswatama berucap lirih, “tunggu aku Banowati.”