Selasa, 02 Juli 2013

LIDAH TAK BERTULANG-KAH?

MULUTMU HARIMAUMU ...!!!

Peribahasa yang berbunyi ”lidah memang tidak bertulang” sungguh benar. Secara fisik jelas benar, karena apabila lidah bertulang maka ia menjadi kaku dan membuat kita sulit untuk berkata-kata. 



Yah, lidah memang tidak bertulang, sehingga dengan sangat mudah kita mengeluarkan berbagai kata-kata, baik yang positif maupun negatif.

Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat tetapi dengan berjalannya waktu ternyata ada orang yang tersanjung, tetapi di sisi lain banyak juga yang tersinggung.

Lidah memang kecil dan lemah, namun dapat menimbulkan dampak yang sangat dahsyat, mampu menimbulkan permusuhan, pembunuhan, bahkan peperangan

Seringkali kita berkata-kata dengan tidak sepantasnya karena kita tidak dapat mengendalikan emosi, sehingga kata-kata yang kita ucapkan tidak dipikir lagi, tetapi terucap otomatis untuk mengumbar kemarahan, kekecewaan, dan lain-lain.

Di sisi lain, kita pun seringkali tidak berani untuk mengatakan yang benar, karena ada perasaan tidak enak, ewuh-pekewuh "nggak enak hati" terhadap teman bicara kita, akhirnya justru kata-kata “sebalik”nya yang kita keluarkan dengan tujuan untuk menyenangkan orang tersebut.

Memang butuh keberanian dan keteguhan hati untuk mengatakan yang sebenarnya, sesuai dengan fakta yang ada dan terjadi.

Bila ada yang tidak berjalan dengan semestinya, hendaknya kita berani mengkritik dan atau men”cela”nya dengan benar dan bijaksana sehingga terjadi perbaikan yang bermanfaat bagi yang kita kritik, syukur bermanfaat bagi banyak orang. Demikian juga bila ada hal yang benar dan prestasi yang luar biasa, maka kita pun perlu berani untuk mengatakan apa adanya. Pujilah yang layak dipuji, dan cela yang salah, tetapi … sekali lagi dengan cara yang benar dan bijaksana.

Ibu Teresa dari Calcuta mengatakan: 


“Kata-kata yang indah bisa saja singkat dan mudah diucapkan, tetapi gemanya tidak pernah berakhir…”. 
Memang dampak dari pujian yang tulus sangat menyenangkan bagi orang yang menerimanya. Sebaliknya kata-kata yang kasar memberikan kesan yang menyakitkan dan menimbulkan sakit hati. 

Ingatlah bahwa mulutmu adalah harimaumu.

Sebelum kata-kata keluar dari mulut kita, sebaiknya kita pikirkan dulu dampak yang akan terjadi, sehingga bila kita anggap dapat menimbulkan dampak negatif, maka ubahlah kata-kata tersebut, atau lebih baik diam dan tidak mengucapkannya. 


Hal ini dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW:

 ” …ucapkanlah kata-kata yang baik, atau (bila tak bisa, lebih baik) diam…”

Demikianlah, karena lidah begitu fleksibel, maka seringkali kita tidak dapat mengendalikan kata-kata yang keluar dari mulut, sehingga yang terjadi adalah penyesalan kemudian.

Jadi marilah kita mengendalikan lidah dengan terlebih dahulu mengendalikan emosi kita, pikirkan setiap perkataan yang akan kita ucapkan. Berikan ungkapan kasih didalamnya, sehingga tidak menimbulkan dampak yang merugikan.

Orang bijaksana berpikir tanpa bicara, 

orang bodoh bicara tanpa berpikir. 

Bila kita emosional mungkin ada orang yang akan tersinggung, jadi mari belajar kendalikanlah mulut kita masing-masing.



SALAM KATRESNAN
JSP 03.06.2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar